WASHINGTON--MIOL: Rencana pemerintah Amerika Serikat untuk mengirim pasukan tambahan ke Irak semakin keras ditentang di dalam negerinya sendiri.
Anggota-anggota parlemen AS menilai rencana itu tidak akan membantu mengatasi kekerasan yang kian memburuk dari hari ke hari.
Di luar rencana penambahan pasukan tersebut, Presiden George W Bush masih terus mencari strategi-strategi baru guna menciptakan perdamaian di negeri yang semakin dalam terseret perang saudara itu.
Sabtu (23/12), Bush mengumpulkan Menteri Pertahanan Robert Gates, Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice, dan pejabat-pejabat keamanan lainnya di Camp David, Maryland, guna membahas opsi-opsi strategi yang bisa digunakan.
Mengenai penambahan pasukan tersebut, Gedung Putih belum mengungkapkan jumlahnya. Namun, pejabat-pejabat senior pemerintah mengatakan jumlah pasukan tambahan yang diusulkan mencapai 30.000 personel, membantu 140.000 personel yang sudah berada di sana.
Para pakar mengatakan, rencana penambahan pasukan itu harus dibiayai lewat penyesuaian anggaran baru. Ini dipastikan bakal ditentang keras oleh kubu Demokrat yang kini menguasai Kongres. Bush diperkirakan akan meminta dana tambahan ini awal tahun depan bersamaan dengan pengumuman kebijakannya yang baru di Irak.
Capitol Hill sudah mengisyaratkan Gedung Putih harus bertarung sengit jika tetap bersikeras mengajukan proposal itu. Christopher Dodd, anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Senat dari Partai Demokrat menilai penambahan pasukan tidak beralasan. Menurut Dodd, yang baru pekan lalu mengunjungi Irak, situasi negeri 'Seribu Satu Malam' itu kian memburuk dari hari ke hari.
Saat diwawancarai oleh ABC News Dodd mengatakan penambahan pasukan tidak akan memberikan solusi politik ataupun diplomatik yang dibutuhkan rakyat Irak. ''Saya yakin pengiriman pasukan tambahan merupakan suatu kesalahan,'' ujarnya.
Bahkan, dalam artikelnya di surat kabar Des Moines Register, Minggu (24/12), Dodd justru mendesak pasukan AS segera ditarik dalam hitungan minggu bukan bulan. Dodd mengusulkan pasukan AS sebagian ditarik pulang dan sebagian lagi ditempatkan di perbatasan dengan Suriah, Irak utara, Qatar, dan Afghanistan.
Senada dengan itu, mantan kandidat presiden dari Partai Demokrat John Kerry mendesak agar pemerintah AS menetapkan batas waktu bagi penarikan mundur pasukan tersebut, bukan menambahnya.
Kesenjangan
Pemimpin Senat lainnya, Harry Reid, pekan lalu juga menegaskan baru akan mendukung penambahan pasukan jika itu merupakan tindakan penghentian kesenjangan, sebagai bagian dari program untuk keluar dari Irak.
Saat ini, pasukan AS di Irak setiap harinya menghadapi ancaman kematian. Bersama dengan pasukan keamanan Irak yang dilatihnya, mereka menjadi target serangan gerilyawan-gerilyawan Irak dan hampir setiap hari mereka harus kehilangan personelnya.
Senin (25/12) misalnya, militer AS mengumumkan enam serdadunya tewas dalam serangan di sejumlah tempat di Irak sepanjang Sabtu (23/12). Dengan korban terbaru tersebut, AS sudah kehilangan sedikitnya 83 personel sepanjang Desember saja atau 2.966 personel sejak mereka menginvasi Irak Maret 2003.
Guna menguatkan mereka, Bush, Senin, menelepon pasukan AS yang beroperasi di luar negeri, terutama Irak dan Afghanistan untuk mengucapkan selamat Natal. (AFP/Hde/OL-01www.pksplus.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar