-----------------
Jakarta, Dua kandidat cagub, Agum Gumelar dan Bibit Waluyo curhat soal keputusan PDIP dan Partai Demokrat yang telah memutuskan mencalonkan Fauzi Bowo dalam Pilkada DKI.
“Sebagai manusia biasa, saya kecewa dengan keputusan PDIP. Dalam sebuah pertandingan ada sesuatu yang menjadi penilaian, sama seperti halnya di penjaringan PDIP. Ada ukuran yang sudah ditetapkan partai untuk menilai kandidat cagub, seperti harus turun ke bawah, loyal kepada partai, dan mengikuti kegiatan partai selama penjaringan.
Namun kenapa PDIP malah mendukung cagub yang tidak pernah mengikuti aturan itu,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Bibit mengatakan, meskipun keputusan itu kontra produktif dengan aturan yang telah ditetapkan PDIP, dirinya tetap menerima keputusan itu dengan tulus. “Untuk apa saya tidak tulus. Itu hak yang punya partai. Saya hanya menyesalkan, kenapa saya disuruh melamar ke partai, disuruh sosialisasi ke bawah,” tandasnya.
Kandidat lainnya, Agum Gumelar juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya atas keputusan Partai Demokrat. Pasalnya, ia ikut di pencalonan, karena Partai Demokrat menjanjikan akan memberi tiket kepadanya. “Tidak pernah terbayang, saya ingin menjadi Gubernur Jakarta.
Sebelumnya, setiap kali ada yang meminta saya menjadi cagub, saya hanya menjawab terima kasih, tidak perlu dilanjutkan. Namun ketika Hadi Utomo meminta saya maju, sikap saya mulai berubah,” katanya saat berkunjung ke redaksi Rakyat Merdeka, kemarin. Agum menceritakan pada bulan Mei 2006 di Hotel Borobudur, ia diundang Hadi Utomo dan petinggi Partai Demokrat. Pada kesempatan itu, Demokrat menyampaikan keinginannya mencalonkan dirinya menjadi cagub dalam Pilkada DKI. Atas permintaan itu, dan setelah pendapat izin keluarga, Agum memutuskan maju.
sumber:Rakyat Merdeka.
Muslim Mobile Media

Tidak ada komentar:
Posting Komentar