Rabu, 07 Maret 2007

Bahasa Surgawi

‘Aam Tarbawi dengan bahasa Surgawi.
-----------------
Sebagian sahabat tidak mengira kalau akhir dari pengepungan mereka terhadap kafilah dagang Abu Sofyan adalah peperangan, karenanya wajar jika Rosululloh SAW menanyakan kesiapan para sahabat terhadap peristiwa yang sungguh sangat berbeda dengan kondisi sebenarnya. Tiga orang sudah, sahabat dari muhajirin menjawab pertanyaan Rosululloh, bahwa mereka siap menghadapi peperangan, namun Rosululloh SAW masih menanyakan kesiapan mereka. Sadarlah Sa’ad bin Mu’adz bahwa pertanyaan tersebut ditujukan kepada kaumnya, kalangan Anshor. Beliau menjawab : ” Ya Rosululloh kiranya pertanyaan yang kau maksud membutuhkan jawaban dari kami, Demi Alloh wahai Rosululloh kami telah beriman kepada anda dan beriman dengan apa yang anda bawa, kami akan membela anda sebagaimana kami membela anak istri kami, demi Alloh andaikan engkau membawa kami masuk kedalam lautan, tidak seorangpun diantara kami yang tinggal, lakukanlah apa yang engkau kehendaki, berangkatlah dengan berkah Alloh SWT ”. Betapa gembiranya Rosululloh SAW demi mendengarkan jawaban yang mengagumkan, beliau bersabda, : ” Berangkatlah kalian, seseungguhnya Alloh SWT memberi kabar gembira bagi kalian...” inilah bahasa surgawi.
Sebelum perang dahsyat antara dua kekuatan besar berkecamuk, beliau memotivasi para sahabat dengan ungkapannya, : ” Sesungguhnya siapa yang berperang dengan berharap ridho Alloh SWT dan tidak mundur dari pertempuran kemudian dia mati, maka Alloh SWT akan memasukkannya ke dalam surga ”. Demi mendengar bahasa surgawi yang dilantunkan pemimpin mereka, para sahabat tidak lagi berfikir tentang rasa takut dan resiko, akan tetapi hanya satu yang terfikir oleh mereka, bertempur hingga titik darah penghabisan dan masuk kedalam Jannah.
Ketika dua pasukan berhadapan dan genderang perang segera dibunyikan, beliau kembali melantunkan bahasa surgawi : ” Bersegeralah kalian menuju surga Alloh yang luasnya seluas langit dan bumi ” dengan serta merta mereka berhamburan menyongsong musuh, dengan semangat jihad yang membara, mereka tebaskan pedang-pedang mereka kearah musuh dengan penuh ketangkasan, satu persatu musuh jatuh tumbang, banjir darahpun tak terhindarkan, membunuh atau terbunuh keduanya dipandang dengan pandangan kenikmatan. Subhanalloh.....
Ditengah kecamuk perang yang hiruk pikuk kembali beliau menebar pesona bahasa surgawi : ”Golongan itu pasti dikalahkan dan mereka pasti mundur kebelakang” semangat sahabat semakin menggelora, gema takbir mereka semakin membahana, langkah mereka makin maju merangsek kedepan sehingga pasukan kafir porak-poranda lari tunggang langgang, menelan kekalahan yang menghinakan dan tidak terperikan.
Betapa bahasa surgawi memiliki kekuatan ”sihir” yang sangat menakjubkan bagi para jundiyah, bahasa surgawi mampu merubah lautan ketakutan menjadi lautan keberanian, menjadikan kerja besar menjadi ringan tanpa beban, mampu melepaskan belenggu ikatan dunia utuk maju menyongsong kebahagiaan kekal, melahirkan motivasi besar, tanpa keraguan, menghasilkan karya-karya yang mencengangkan, yang tak pernah terfikirkan. Bahasa surgawi sangat ringan bagi para qiyadah, dia meluncur dari lisan tanpa mengeringkan tenggorokan, tidak juga membuat otot leher menjadi kencang, tak ada emosi yang ditampakkan, bahasa Instruksi dan Wajib tak kan pernah keluar ketika bahasa surgwi dikedepankan. Bahasa surgawi keluar dengan gratisan, tanpa biaya bahkan mampu mendatangkan dana da’wah dari arah yang tak terperhitungkan.
’Aam tarbawi memang kerja besar namun namun tidaklah lebih herois jika dibandingkan dengan peristiwa badar, 160.000 tidak besar hanya sekitar 1,6 % penduduk DKI, tiap kader hanya merekrut 10 orang dalam 10 bulan atau 1 orang perbulan, tidak ada diantara kita yang harus berjalan beratus kilometer ditengah terik sahara seperti peristiwa badar, tidak juga kita dalam kondisi kekurangan pangan dan fasilitas, bahkan sebagian kita tampak kewalahan dengan ”onggokan” harta kekayaan. Tidak ada kekhawatiran dan ketakutan dan tidak ada juga tetesan darah dan nyawa yang diregang karena ’Aam tarbawi yang digulirkan.
Namun ’Aam tarbawi akan menjadi karang hambatan besar yang tak tergoyahkan, kefrustasian merasuki jiwa, rasa lemah dan tidak berdaya menjajah benak fikiran, sehingga kalimat yang lahir hanyalah tidak mungkin dan tidak mungkin sebelum usaha dan perjuangan dilakukan, mereka kalah sebelum bertanding, meski fasilitas dan sarana tak kurang adanya, ’Aam tarbawi akan semakin menjadi monster yang menakutkan manakala bahasa surgawi tak dilantunkan. Ketika kalkulasi siyasah lebih diutamakan, maka ’Aam tarbawi tidak lagi menjadi kalimat sakral yang diperhatikan, bahkan bisa jadi momok yang menakutkan. Karena tidak semua orang mampu menikmati ”jatah” kemenangan, bahkan sebagian mereka bisa jadi berkomentar, ’Aam untuk siapa....? Na’udzubillah.
Andai saja ’aam tarbawi dibahasakan dengan bahasa surgawi, bisa jadi hasilnya akan berbeda. ”Ikhwani fillah, kita fahami kebaikan hari ini adalah buah tarbiyah yang kita semai 20 tahun yang lalu, karenanya tarbiyah tidak boleh berhenti dalam situasi dan kondisi apapun dan dengan alasan apapun, tarbiyah madal hayah begitu kita membahasakannya. Kemenangan hari ini seyogyanya menjadi alat kuat untuk melipat gandakan jumlah kader, Karenanya jamaah memberikan kita peluang investasi akhirat besar berupa target 250.000 orang kader pada tahun 2009. Betapa da’wah ini berhajat besar akan lahirnya Kader atau Rijal dalam jumlah banyak sebagai penguat dan pengokoh langkahnya. Satu orang kader ditengah umat merupakan penggerak kehidupan, ruh kebangkitan penyanggah utama sebuah misi, dan ujung tombak bagi sebuah perubahan besar, dan yang akan kita cetak bukan satu tapi 250.000 orang kader, Allohu Akbar. Lebih dahsyat dari itu semua berapa besar pahala yang akan kita peroleh dari ”Proyek Raksasa” ini, bukankah Alloh SWT menjanjikan kepada penyeru kebenaran sebuah pahala yang lebih baik dari bumi dan seisinya untuk setiap orang yang mendapatkan hidayah, ini 250.000 orang sebuah lipatan yang tak terhingga, adakah diantara kita yang ingin tertinggal untuk mendapatkan pahala ini ?” investasi yang tidak akan pernah berhenti selama da’wah dan tarbiyah bergerak dan terus bergerak. Subhanalloh”. Ternyata bahasa surgawi mampu membagi ”hasil” kemenangan untuk dinikmati semua kader, tidak untuk segelintir orang saja. Dengan demikian daya panggilnya lebih kuat dibanding bahasa dunia.
Namun tidak selamanya bahasa surgawi mampu ”menyihir” dia akan tetap menjadi teriakan kecil ditengah sahara yang tidak memiliki arti apa-apa, manakala tidak dimaknai dengan benar. Bahasa surgawi tinggal slogan dan jargon, dibahasakan tidak direspon tidak dibahasakan kita sedang butuh membahasakannya, ah dilema..... Dikumandangkan tidak dikumandangkan bahasa surgawi sama saja, tidak memiliki daya dobrak yang berarti. Bahasa surgawi telah kehilangan Ruhnya, tidak mungkin bahasa surgawi akan ”berbunyi” bila dibahasakan oleh tokoh yang berubah orientasi, bahasa surgawi tidak akan mampu ”menonjok” jika keteladan, kesederhanaan, kezuhudan, dan semangat sirna dari pemegang kebijakan. Karenanya luruskan orientasi, tebar keteladanan dengan amal dan perbuatan, hiduplah sederhana dan penuh kezuhudan dan jaga vitalitas da’wah hingga akhir hayat dikandung badan. Insya Alloh bahasa surgawi akan kembali hadir.
Dengan bahasa surgawi kerja besar menjadi kerja ridho, tetapi bahasa duniawi, kerja kecil menjadi kerja rodi apalagi kerja besar, Silakan memilih.....
sumber:PKS-Jakarta

Technorati icon
Muslim Mobile Media



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah