Melihat Kemiskinan sebagai Bencana Bisu
SEORANG ibu muda di Malang, Junaini Mercy namanya, bunuh diri bersama empat anaknya karena tidak kuat menanggung beban hidup yang semakin berat. Mereka menenggak minuman yang sudah dicampuri racun potasium, akhir pekan lalu.
Ketika Orde Baru tumbang tahun 1998, dan harga-harga melambung tidak terkontrol, seorang ibu di Pontianak, ketika itu, membakar diri bersama anaknya karena tidak mampu lagi membeli beras untuk makan.
Ada lagi cerita tentang Fifi Kusrini. Murid kelas II SD ini bunuh diri karena malu diolok-olok teman akibat menunggak uang sekolah beberapa bulan. Orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah Fifi karena perekonomian keluarga yang memburuk.
Bunuh diri yang ditempuh Mercy, Fifi, dan seorang ibu di Pontianak, berbeda dengan yang dilakukan para pengikut sekte sesat seperti yang pernah dipamerkan oleh Jim Jones dan David Koresh. Atau seperti yang dilakukan sejumlah remaja Jepang dalam film Suicide Club yang berfantasi tentang keindahan bunuh diri.
Bila Jim Jones dan David Koresh mengajak pengikutnya bunuh diri sambil bernyanyi penuh sukacita, tiga contoh pelaku bunuh diri di Tanah Air mengakhiri hidupnya dalam keputusasaan. Karena kemiskinan yang semakin hari semakin menutup harapan untuk menemukan jalan keluar. Inilah tragedi kemiskinan. Kemiskinan yang membawa bencana.
Kemiskinan di negeri ini harus mulai didekati dengan tingkat urgensi yang sungguh berbeda. Ketika banjir dan tanah longsor menelan korban puluhan orang di Manggarai, NTT dan Solok, Sumatra Barat, terlihat betapa banyak orang melompat memberi perhatian. Dari pejabat negara sampai organisasi masyarakat tingkat lokal dan kecil. Banyak yang tergerak menyelesaikan masalah.
Akan tetapi berbicara tentang kemiskinan? Tidak banyak yang tergerak dan melompat. Kemiskinan telah menjadi bencana bisu. Negara melihat kemiskinan dalam angka dan kurang peduli pada substansi. Karena melihat dengan angka, solusinya pun dengan angka. Jumlah orang miskin dianggap berkurang ketika angka-angka statistik menunjukkannya.
Janganlah semata berbicara angka pada kemiskinan. Kemiskinan, entah melilit sedikit orang, apalagi banyak orang, tetaplah persoalan kemanusiaan yang gawat. Dia harus dilihat dan didekati sebagai bencana. Jangan melihat kemiskinan seperti barang obralan dalam partai besar. Kemiskinan adalah masalah individu, bukan borongan.
Di tengah peran negara yang cenderung politis, sistem kekerabatan yang termangsa oleh individualisme, sistem ekonomi yang berpihak pada yang kuat dalam prinsip pasar bebas, orang-orang miskin yang semakin banyak itu adalah mereka yang kalah. Mereka yang tidak tahu di mana dan ke mana menggantungkan harapan.
Kepada negara? Tidak ada jaminan. Negara hanya melihat kemiskinan seperti melihat gunung dari kejauhan. Semuanya tampak hijau di musim hujan atau cokelat di musim kemarau. Cara melihat seperti itu menyebabkan negara tidak mengetahui mana pohon yang kering dan terancam mati dan mana yang hijau dan subur. Semuanya sama diterjemahkan ke dalam angka dan anggaran.
Celakanya, orang-orang yang kalah dalam pertarungan hidup dalam komunitas negara semakin banyak dan semakin gawat. Mercy dan Fifi memilih bunuh diri sebagai ekspresi pengakuan terhadap kekalahan dan keputusasaan.
Yang lebih celaka adalah ketika orang-orang miskin dan kalah itu bersepakat merampok dan membunuh orang-orang sukses. Maka negara akan kehilangan manusia karena saling membunuh, bukan lagi bunuh diri. Itulah revolusi.
Karena itu, janganlah melihat kemiskinan sebagai bencana bisu. Dia harus didekati dengan ketergesaan dan kesungguhan. Sama dengan kesungguhan pemerintah melihat bencana di Manggarai dan Solok.
Sumber Media Indonesia Online:
Muslim Mobile Media

Tidak ada komentar:
Posting Komentar