Kantor Humas IPB dalam pernyataan yang diterima Antara, di Bogor, Ahad menyebutkan, Adhyaksa Dault meriah gelar doktor setelah memaparkan hasil penelitiannya itu dalam ujian terbuka yang digelar di Auditorium Rektorat Kampus IPB Darmaga, pekan lalu.
Dewan penguji terdiri dari penguji utama dan penguji tambahan. Penguji utama adalah komisi pembimbing, yang diketuai oleh Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng, MF, dengan anggota Prof Dr Ir John Haluan, M.Sc, Dr Ir Manuwoto, M.Sc, Dr Tommy H Purwaka, SH, LLM, dan Dr Ir Victor PH Nikijuluw, M.Sc.
Sementara, penguji tambahan (penguji luar komisi), yaitu Prof Dr Ir Daniel R Monintja, M.Sc, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, dan Prof Dr Meutia Farida Hatta, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia yang juga Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.
Ikut hadir dalam kesempatan tersebut antara lain, Menteri Koperasi dan UKM, Surya Dharma Ali, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Syaifullah Yusuf, sejumlah pimpinan IPB, Rektor Universitas Trisakti, Prof Dr Thoby Mutis, dan para pemuda yang tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Kelulusan Menegpora tersebut disampaikan oleh Ketua Sidang ujian doktor, Prof Dr Ir Khairil Anwar Notodiputro, MS, yang juga Dekan Sekolah Pascasarjana IPB.
"Setelah mendengar keterangan, pemikiran dan pertimbangan dewan penguji, saudara Adhyaksa Dault dinyatakan lulus," katanya.
Adhyaksa pun berkali-kali mengucapkan terima kasih dan kemudian segera berdiri menghadap kiblat, melakukan sujud syukur di atas panggung, tepat di samping kursi tempat ia duduk.
Ujian doktor itu diawali dengan mendengarkan paparan disertasi Adhyaksa selama 30 menit, dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan oleh para penguji.
Dalam presentasinya Adhyaksa menjelaskan, minat generasi muda untuk bekerja pada usaha perikanan cenderung semakin berkurang, paling tidak dinilai dari kurangnya minat pemuda yang masuk sekolah kedinasan (kejuruan) perikanan.
Menurut dia, gejala menurunnya kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia (SDM) pada sektor perikanan terjadi secara global.
Ia mengutip tulisan Dr Ir Victor PH Nikijuluw, M.Sc, yang menyontohkan tentang turunnya jumlah orang muda yang kuat dan berprestasi yang menjadi nelayan di Jepang dan Korea.
"Hal ini disebabkan karena bisnis menangkap ikan dinilai sebagai bisnis yang memiliki sifat `dangerous`, `dirty`, dan `desperate`, sehingga orang muda berhenti menjadi nelayan atau tidak mau masuk bekerja pada usaha ini," katanya.
Di samping kecenderungan jumlah generasi muda yang berkurang pada usaha perikanan, masalah lain yang dihadapi oleh industri perikanan Indonesia adalah kualitas SDM yang rendah, setidaknya dilihat dari latar belakang pendidikan formal.
Dengan kondisi kualitas SDM nelayan seperti ini, serta kecenderungan nelayan usia tua yang tinggal di dalam usaha perikanan, maka adalah salah satu upaya yang tidak ringan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas dan pada akhirnya kinerja sektor perikanan.
Karena itu, Adhyaksa menyarankan agar program yang akan dilaksanakan Dinas Kelautan dan Perikanan sebaiknya melibatkan masyarakat, termasuk pemuda, sejak perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi sehingga mereka merasa memiliki.
"Keterlibatan pemuda bisa memberikan semangat atau ide-ide baru dalam pembangunan kelautan dan perikanan," kata Adhyaksa yang mendaftarkan diri menjadi mahasiswa S-3 IPB pada tahun 2003.
Selain itu, kebijakan publik harus menjangkau kalangan masyarakat secara lebih luas termasuk pemuda. Usia yang masih relatif muda, kata dia, akan memberikan harapan bahwa pemuda akan lebih produktif, jika kebijakan publik yang ada bersifat kondusif dan aktual sesuai minat, kemampuan dan manfaat yang akan diperoleh.
Di akhir paparannya, Adhyaksa mengajak IPB sebagai perguruan tinggi untuk bersama-sama membuat program yang mengarah pada peningkatan dan pembangunan sektor kelautan dan perikanan Indonesia, agar dapat lebih diminati oleh generasi muda.
Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan Dekan Sekolah Pascasarjana IPB, Prof Dr Ir Khairil Anwar Notodiputro, MS., terkait bagaimana caranya agar bidang perikanan diminati oleh para pemuda.
Dengan gelar doktor tersebut, Adhyaksa Dault mengikuti jejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang sebelumnya juga telah lulus sebagai doktor dalam bidang ilmu pertanian.
Republika
PKS Story
![]() |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar