Kamis, 08 November 2007

Teropong PKS

SMSPlus :. PKS Partai Keadilan Sejaktera Di Indonesia 2009 Apa Kata Media :.


Partai Keadilan Sejahtera
Mengandalkan Keyakinan pada Basis Massa


Meskipun kalah pada Pilkada DKI Jakarta, Partai Keadilan Sejahtera atau PKS betul-betul mencerminkan sebuah kekuatan politik yang berkembang. Di wilayah ibu kota negara, PKS berhasil menempatkan diri di posisi kelima dari 48 partai yang bertarung pada Pemilu 1999. Setelah membentuk partai baru pasca-Pemilu 1999 dengan nama Partai Keadilan Sejahtera dan meleburnya Partai Keadilan ke dalamnya, soliditas partai tersebut menjadi semakin nyata. Hasilnya, pada Pemilu 2004 PKS menang dengan menempati posisi pertama perolehan suara di DKI Jakarta.

Di tingkat nasional posisi PKS semakin kuat dengan berada di peringkat keenam perolehan suara. Dengan 7,34 persen suara yang dikumpulkannya, PKS berhak mendapatkan 45 kursi DPR atau naik lebih dari enam kali lipat dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Senada dengan itu, perolehan kursi di DPRD kabupaten/kota pun meningkat menjadi 570 kursi, membuat basis kekuatan PKS semakin kokoh di daerah.

Partai Keadilan Sejahtera mencerminkan sebuah partai yang relatif lebih konsisten dalam meraih kemenangan pilkada sesuai dengan basis massanya dibandingkan dengan partai lainnya. Pada Pemilu 2004, PKS menang di 12 daerah pemilihan, yaitu di Kabupaten Halmahera Selatan (Maluku Utara), Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Kalimantan Selatan), Kota Banda Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam), Kota Bandung, Kota Bekasi, dan Kota Depok (Jawa Barat), Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur (DKI Jakarta), serta Kota Medan (Sumatera Utara) dan Kota Padang (Sumatera Barat). Sayangnya, dari 12 basis massa tersebut, hanya lima daerah saja yang melaksanakan pilkada pada tahun 2005 dan 2006.

Dari lima daerah yang menjadi basis massanya itu, tiga daerah diraih oleh calon dari PKS pada pilkada. PKS menang di Halmahera Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Kota Depok. Sementara, di Kota Banda Aceh dan Kota Medan, PKS gagal meraih kemenangan. Meski demikian, PKS berhasil menang di wilayah-wilayah yang bukan merupakan basis massanya. Bahkan, di Kabupaten Bangka Barat (Bangka Belitung), PKS berhasil menang tanpa koalisi. Padahal, wilayah ini merupakan basis massa PDI-P.

Secara keseluruhan, kemenangan PKS relatif tersebar secara merata di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Maluku. Namun, di Sulawesi, partai ini tidak berhasil memperoleh hasil yang cukup menonjol, dan di Bali PKS sama sekali kehilangan kesempatan meraih kemenangan.

Mirip dengan Partai Demokrat, kecenderungan PKS untuk menang di wilayah perkotaan lebih besar daripada di level pedesaan atau kabupaten. Partai ini juga belum cukup kuat untuk berkancah di level provinsi sehingga kemenangan yang diraih masih mengandalkan sepenuhnya koalisinya dengan partai lain.

Dari 290 pelaksanaan pilkada 2005-2006, PKS berhasil memenangi 41 kali pemilihan kepala daerah. Dari jumlah tersebut, tiga kali dimenanginya tanpa koalisi, sedangkan sisanya dengan koalisi.

Kemenangan paling banyak terjadi di wilayah yang menjadi basis massa Golkar pada Pemilu 2004. Padahal, hasil koalisi dengan Golkar, kemenangan PKS hanya terjadi 11 kali. Kemenangan lainnya diraih PKS sebagai hasil koalisi dengan PAN, PKB, PBB, dan partai lainnya.

Dengan partai besar seperti PDI-P, PKS tampaknya tidak terlalu intensif melakukan koalisi sehingga kemenangannya pun hanya empat kali dalam periode 2005-2006. Sebaliknya, dengan partai Islam-nasionalis seperti PAN dan PKB, kinerja PKS bisa semakin baik. Kecenderungan ini menggambarkan bahwa partai berideologi Islam cenderung lebih efektif kalau berkoalisi dengan sesama partai berbasis Islam, tetapi yang berhaluan nasionalis.

Sebenarnya, performa PKS hampir tidak berubah pada tahun 2006 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil yang dicapai secara keseluruhan dalam upaya memenangi pilkada tidak menunjukkan strategi yang lebih efektif.

Tahun 2005, PKS meraih kemenangan sebanyak 14,1 persen dari 212 pilkada, dan pada tahun 2006 juga meraih 14,1 persen dari 78 pilkada. Kemenangan PKS hanya menggambarkan terjadinya pergeseran taktik, dari tiga kali hasil dari melakukan pengajuan calon sendiri pada tahun 2005 menjadi sepenuhnya hasil koalisi di tahun 2006.

Meski demikian, ada kecenderungan meningkatnya perolehan suara calon yang diusung PKS jika dilakukan dengan koalisi. Kecenderungan perolehan suara yang dapat dihimpun untuk kemenangan calon dari PKS rata-rata berada di kisaran 44 persen. Jika dibandingkan dengan rata-rata kemenangan tanpa koalisi yang 35,8 persen, kemenangan dengan koalisi yang rata-rata 44,6 persen memang menggambarkan terdongkraknya perolehan calon.

Kecenderungan yang terjadi pada kemenangan PKS tersebut bisa berarti menggambarkan strategi kampanye yang cukup efektif dari PKS untuk mendongkrak perolehan sekaligus meningkatkan partisipasi pemilih. Namun, hal itu bisa juga menggambarkan aktifnya kandidat melakukan lobi politik dengan partai lain untuk memperkuat dukungan, baik di basis partai maupun masyarakat.

Hasil pilkada yang berlangsung antara 2005 dan 2006 menunjukkan belum mampunya calon dari PKS meraih dukungan suara mayoritas. Terbukti dari tiadanya calon PKS yang meraih suara di atas 50 persen dari hasil pengajuan calon secara sendirian. Sebaliknya, dengan melakukan koalisi, ternyata suara untuk calon yang diusulkan PKS menjadi lebih kuat.

Paling tinggi perolehan suara untuk koalisi PKS adalah 76,74 persen di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Di sini, calon incumbent Rudy Restawan yang diusulkan PKS, PKB, PPP, dan PBR memenangi pilkada.

(BAMBANG SETIAWAN/ Litbang Kompas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah