Jumat, 06 Juni 2008

ANALISIS 2009 : Partai Mana Yang Unggul dan Tegerus?

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Type rest of the post here


Menerka Siapa yang Bakal Tergerus Lagi

(berpolitik.com): Genderang pemilu legislatif memang tak semarak pilpres. Tapi, jangan salah, kontestasinya tak kalah alot.

Kontestasi antar partai secara garis besar melibatkan 3 kubu besar. Yakni, Islam, Nasionalis dan yang berada di tengah-tengahnya (nasionalis inklusif). Jika pada pemilu 1999 terjadi fragmentasi suara di partai Islam, maka mengutip kajian Anis Basweda (2004), pada pemilu 2004 fragmentasi justru terjadi di partai-partai nasionalis.

Dalam hal ini, suara PDIP 1999 tersebar ke partai-partai pecahannya (PNBK, PNIM,Pelopor), PDS dan yang terbesar adalah ke Partai Demokrat. Berbeda dengan anggapan umum, PD, masih kata Anis, tidak berhasil mencuri suara Golkar secara signifikan. Ini dibuktikan dari rendahnya perolehan suara PD di daerah-daerah dimana Golkar 1999 mendulang suara besar.

Satu kelompok lain diwakili Golkar yang dijuluki sebagai partai nasional-inklusif. Peraihan suara Golkar relatif tak banyak berubah antara pemilu 1999 (22,3%) dengan 2004 (21,58%).

Bagaimana kemungkinan perolehan suara di 2009?

Seusai Pemilu 2004, PDIP kembali menelurkan satu partai pecahan: Partai Demokrasi Pembaruan. Jika menilik pentolan-pentolannya, PDP diperkirakan kuat di Jakarta (dimana PDIP berjaya pada pemilu 1999) dan juga di Jawa Tengah (dimana PDIP berjaya pada pemilu 2004). Tapi, kekuatan PDP juga keropos karena sebagian eksponennya sudah hengkang mendirikan Partai Pembaharuan Bangsa yang dipimpin Angelina Pattisiana dan Kemal Taruk.

Analis politik yang dihubungi berpolitik menyatakan, suara PDIP juga bakal kembali terkoreksi. Kehadiran PDP dan PPB memang bisa menggerus suara PDIP. Namun, faktor utama kehilangan suara bakal berasal dari kekecewaan arus bawah melihat kecenderungan manuver PDIP dalam sejumlah pilkada yang berakhir dengan kekalahan yang meyakitkan.

"Mereka yang simpatisan sudah dipastikan bakal kabur (melihat manuver PDIP) selama ini," katanya. Meski begitu, masih terlalu dini untuk memproyeksikan ke mana suara PDIP 2004 akan berlabuh, di luar partai-partai nasionalis lainnya.

Selain PDIP, PKB juga diperkirakan bakal terkoreksi suaranya. Setelah Pemilu 2004, partai ini mengalami perpecahan dan sekaligus friksi internal yang keras. Setelah kubu Alwi Shihab membentuk PKNU, PKB hingga saat ini masih terlibat dalam konflik internal antara kubu Gus Dur dengan Muhaimin Iskandar. Situasi tak kondusif ini dipastikan bakal membuat PKB sangat mungkin kehilangan suara lagi. Selain ke PPP dan PKNU, suara PKB bukan tak mungkin bakal mengalir ke PG, Hanura dan juga PKS.

Berbeda dengan dua partai ini, peta suara PG masih tanda tanya besar. Salah satu persoalan besar PG dalam pilkada adalah mandeknya mesin politik di tingkat akar rumput. Penyebabnya sederhana: mesin-mesin Golkar sudah sangat tergantung pada pasokan "gizi". Jika tak ada, sebagaimana dalam kasus di Jawa Barat, akar rumputnya pun menyapa mereka yang memberikan "gizi".

Untuk kasus PG, besar kemungkinan mesin-mesin itu bakal memanas lagi. "Kali ini kan bukan soal orang, tapi partai. Ceritanya bisa berbeda," kata seorang analis politik.

Meski begitu, Golkar tak bisa tenang-tenang saja. PD memang tak berhasil mencuri suara mereka. Tapi, kali ini ada Hanura yang lebih teroganisir dan lebih ber"gizi". Ini sudah dibuktikan dari adanya migrasi sejumlah kader Golkar ke partai ini. Masih terlalu dini untuk memperkirakan kans Hanura mencuri suara PG. Meski begitu, Hanura diperkirakan sangat berpeluang mencuri suara PD.

Dua partai besarnya, PPP dan PAN, diperkirakan hanya bakal sedikit mengalami koreksi. Untuk kasus PPP, ada hal yang menarik. Partai ini bukan tak mungkin merambah suara baru berkat program-program ekonomi kerakyatan yang mengucur melalui Depsos dan Depkop UKM. "Gerakan mereka diam-diam, tapi menghanyutkan, loh," ujar seorang pengamat politik.

Satu-satunya partai yang diyakini bakal mendulang suara lebih besar ketimbang pemilu 2004 lalu adalah PKS. Selain relatif solid, partai ini jika mampu mempertahankan momentum, bakal menuai efek lanjutan dari kemenangan dari pilkada-pilkada yang secara mengejutkan telah dimenangkannya (Jabar dan Sumut).

Ketimbang bakal digerus oleh partai Islam baru, partai ini lebih mungkin akan menghadapi permasalahan internal di kalangan kader-kadernya. "Ini tak terkait faksi-faksi yang ada. Ini terkait eksodus kader-kadernya ke HTI. Jumlahnya memang tak banyak,tapi mereka kader-kadr yang militan. Fenomena permukaannya bisa dilihat dari mulai melemahnya cengkraman KAMMI dalam menguasai BEM-BEM PTN/PTS," ujar seorang aktivis politik yang dekat dengan kalangan partai ini.

Lantas bagaimana dengan partainya SBY? Sebagian kalangan meyakini, PD tak bakal bisa masuk dalam 3 besar. "Masih bisa bertahan dengan perolehan suara 2004 lalu saja sudah dianggap prestasi luar biasa. Ini dikarenakan PD termasuk partai yang paling lemah dalam hal mesin politik maupun ideologi yang mengikat anggota dan simpatisannya.

Yang menarik, meski perolehan suara partai-partai kelas tengah seperti PAN maupun PD masih pada kisaran yang sama dengan pemilu 2004 lalu, tapi diperkirakan perolehan kursinya bakal anjlok. PAN adalah salah satu partai yang banyak menangguk kursi dari hasil perhitungan "sisa suara".

Tapi, memang, kompetisi belum lagi ditabuh. Masih terbuka peluang untuk mencuri suara lawan sembari mempertahankan yang sudah ada. Kita tungguh saja manuver mereka, para partai kontestan pemilu 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah