Jumat, 26 Desember 2008

Ali Alatas, Teladan Diplomat

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Ali Alatas, Teladan Diplomat

Di dalam sebuah ruangan, saling berhadapan Menteri Luar Negeri Indonesia, Menteri Luar Negeri Portugal, dan Sekjen PBB. Perundingan tripartit yang sebelumnya berjalan biasa-biasa saja berubah seketika, ketika Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Ali Alatas tiba-tiba meradang. ''Jangan tanyakan komitmen bangsa kami dalam hal prinsip right to self-determination!'' ujarnya sembari menunjuk hidung lawan bicaranya, Menlu Portugal.

Peristiwa itu masih terekam jelas dalam ingatan saya hingga kini, 12 tahun kemudian. Saya yang ikut hadir dalam pertemuan itu terperangah. Seorang Ali Alatas, yang dikenal sebagai pribadi yang ramah, hangat, tiba-tiba berubah menjadi garang. Namun, dalam emosi yang memuncak itu, ia masih bisa memaparkan argumentasinya dengan sistematis kepada lawan bicaranya.

Itulah Ali Alatas. Seorang negosiator yang sangat sensitif dan bisa meledak apabila mulai diusik rasa kebangsaannya dan kepentingan nasional negaranya. Itulah yang terjadi dalam perundingan tripartit itu. Padahal, ia fasih betul soal pakem bernegosiasi.

Perjumpaan saya dengan sosok Ali Alatas pertama kali terjadi ketika saya masih enam bulan menjadi pegawai baru di Departemen Luar Negeri. Ketika itu, beliau menjadi sekretaris menteri pada waktu itu, Adam Malik. Tapi pada saat itu hanyalah perjumpaan fisik, belum ada komunikasi intensif. Maklum, saya juga masih sangat anyar.

Kesempatan untuk bisa mengenal lebih dekat Pak Alatas datang pada 1992. Ketika itu, saya menjabat sebagai Kabidpol Perwakilan RI di Jenewa, Swiss, dan di Indonesia pada saat itu sedang dilakukan persiapan KTT Gerakan Non-Blok (GNB) di Jakarta. Beliau menyampaikan sendiri undangan kepada beberapa kepala negara dan kepala pemerintahan yang pernah menjadi Ketua GNB.

Beliau terbang dengan pesawat carteran ke Zimbabwe, Zambia, Mesir, dan Aljazair dalam tiga hari. Saya diminta mendampingi beliau. Itulah komunikasi sangat intensif yang pertama kali bisa saya lakukan dengan beliau.

Di situlah saya tahu bahwa seorang Ali Alatas, seorang Menlu yang ada di depan saya, adalah seorang pendengar yang baik. Meski itu dengan seorang bawahannya seperti saya. Ia mau berdiskusi segala hal, mendengarkan pemikiran-pemikiran saya, dengan sangat terbuka. Saya juga menyadari bahwa sosok satu ini adalah orang yang sangat cermat. Dokumen-dokumen yang ada padanya dibacanya dengan sangat teliti. Segala hal yang menurut dia penting ia garisi dengan mistar yang tak pernah ketinggalan ia bawa.

Keterbukaan Pak Alatas terhadap pemikiran baru terbukti pada penanganan isu hak asasi manusia (HAM). Pada April 1989 di Jenewa, misalnya, sebagai orang yang bertanggung jawab menangani isu HAM, saya disarankan atasan saya, Duta Besar Wisber Louis, untuk langsung menyampaikan kertas kerja berjudul ''Reorientasi Kebijakan HAM Indonesia'' kepada Pak Alatas, yang sedang transit selama dua jam dalam perjalanan beliau ke Washington, DC.

Dalam waktu yang terbatas itu, saya berkesempatan menjelaskan bahwa ketika isu-isu HAM menjadi agenda penting internasional, maka kebijakan domestik kita pun perlu disesuaikan agar jaraknya tidak terlalu jauh dari dunia internasional. Kalau tidak, Indonesia bisa mengalami kesulitan --yang berpotensi merugikan kepentingan kita yang lebih luas.

Pemikiran sepanjang 12 halaman itu dicermatinya. Beliau menyadari bahwa selama itu, diplomasi yang dilakukan bangsa kita sangatlah defensif. Usul saya supaya Indonesia lebih proaktif dengan maju sebagai anggota Komisi HAM PBB disetujui oleh beliau. ''Kita harus naik ring, join dengan mereka. Tidak akan strategis kalau diplomasi kita hanya cuci piring,'' tutur Pak Alatas pada waktu itu.

Dipercaya oleh seorang Ali Alatas jelas merupakan tantangan bagi saya. Pada 1993, beliau mengutus saya untuk menjadi pengendali proses dan negosiator perdamaian antara Pemerintah Filipina dan pihak MNLF. Beliau menggunakan akses langsung dengan saya untuk mengetahui lebih dekat proses perundingan. Dengan demikian, ia mengetahui segala masalah dan hambatan yang kami hadapi.

Hubungan kami semakin erat karena masalah Timor Timur. Sehari sebelum diundangkannya keputusan adanya referendum di Timor Timur oleh Presiden Habibie, diadakanlah rapat kabinet terbatas. Namun suasana rapat kabinet itu sudah dirasakan lain oleh Pak Alatas. Semua seakan sudah mengerucut pada keputusan final itu. Dan Rabu 27 Januari 1999, diketuklah keputusan referendum atas Timor Timur. Yang saya tahu, beliau pada saat itu tidak bisa menyembunyikan kegundahannya.

Tak hanya itu. Pak Alatas, bagi saya, adalah seorang guru, atasan yang memberi kesempatan dan semangat bagi saya. Masih teringat ketika saya -- ketika itu sebagai duta besar di Jenewa-- hendak menghadiri sidang khusus Komisi HAM PBB mengenai kerusuhan yang terjadi pasca-jajak pendapat di Timor Leste.

Saya menelepon beliau yang pada saat itu sedang berada di New York. ''Pak Alatas, besok sidang Komisi HAM PBB. Terus terang, saya tidak punya amunisi apa pun untuk menghadapi sidang ini,'' ujar saya ketika itu. Indonesia sudah tidak bisa bersembunyi lagi. Semua media terang-terangan memberitakan kondisi Timor Timur yang parah.

Di ujung telepon, Pak Alatas berkata, ''Hassan, you tahu, kita sudah tiarap. Kita sudah tak bisa lagi mengangkat kepala. Lakukan yang terbaik untuk negaramu.'' Bagi saya, kata-kata beliau bukannya semakin mematahkan asa saya. Justru sebaliknya. Ada spirit yang menyihir saya untuk menegakkan kepala, untuk menunjukkan bahwa bangsa ini masih bisa bertahan.

Satu hal, Pak Alatas adalah orang yang selalu teguh memegang janjinya. Inilah karakter beliau yang paling menonjol. Beliau tidak pernah lupa akan janjinya, meskipun kepada bawahannya. Karena itu, Pak Alatas tidak pernah mengobral janji. Apa yang dikatakannya selalu terukur, hati-hati, dan cermat. Dan beliau tidak pernah ragu menolak permintaan orang (dengan cara yang selalu halus dan sopan) ketika merasa tidak akan bisa memenuhi permintaan itu.

Saya ingat, pada 1990-an itu, saya menjadi Direktur Organisasi Internasional (OI) di Departemen Luar Negeri dalam jangka waktu sangat lama, sekitar enam tahun. Suatu saat, saya dipanggil beliau ke kediaman dinas di Widya Chandra. ''San, I want talk with you,'' ujarnya.

Di situlah beliau menjelaskan kepada saya bahwa beliau sama sekali tidak punya maksud apa pun dengan menahan saya berlama-lama sebagai Direktur OI selama enam tahun. Maklum, diplomat kadang merasa tak nyaman bila "disimpan" terlalu lama di Jakarta. ''Saya sudah punya rencana untuk kamu,'' katanya. Dan saya percaya beliau.

Di saat-saat akhir beliau, saya bersyukur masih sempat menyambangi beliau ketika masih dirawat di Mount Elizabeth, Singapura. Pertama, ketika saya pulang dari rangkaian pertemuan APEC di Peru. Pada saat itu, kondisi beliau terlihat payah.

Lama ia memegang tangan saya, seolah ingin menunjukkan betapa dekat hubungan kami berdua. Ketika itu, Ibu Alatas berkata kepada saya, ''Hassan, Bapak ingin bicara sama kamu, tapi belum bisa.'' Dengan susah payah, Pak Alatas bertanya tentang kegiatan-kegiatan yang saya hadiri. Saya sadar, tak mungkin saya bicara terlalu banyak mengenai APEC, pertemuan G-20, dan sebagainya. Tapi, seperti mengerti keinginan suaminya, Ibu Alatas terus memaksa saya, ''Cerita lagi, dong, Bapak itu pingin tahu lebih banyak.''

Kemajuan saya temui ketika sembilan hari berikutnya, saya mendapingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menengok Pak Alatas. Ia tampak lebih segar. Mukanya lebih memerah daripada sebelumnya yang terlihat pucat. Ia sudah pindah ruangan, dari ICU ke ruang perawatan biasa. Beliau masih saja melontarkan humor-humor segar khasnya dan tetap pada ciri khasnya: bertanya tentang substansi. Saya harus mengakui, beliau sama sekali tidak pernah rest alias istirahat dalam arti sebenarnya. Otak dan pikirannya selalu berjalan dan bekerja. Pada saat itu, saya dan Pak Presiden meninggalkan Singapura dengan pemikiran yang sama, ''He is on the way to recovery.''

Saya sedang dalam perjalanan menuju tempat konferensi Bali Democracy Forum, dan Pak Presiden dalam perjalanan menuju Bandara Ngurah Rai, ketika berita duka itu tiba. Senior dan guru yang saya hormati, Ali Alatas, menghadap Sang Pencipta di usia 76 tahun. Saya terhenyak, tak percaya. Masih terbayang kesegaran wajah beliau ketika saya mengunjunginya di Mount Elizabeth, beberapa hari sebelumnya.

Kini Pak Alatas telah berpulang. Dari saya yang mengikuti beliau sebagai staf hingga kini saya kemudian sebagai Menteri Luar Negeri dan dia sebagai penasihat di belakang saya, ada yang satu hal yang beliau tanamkan seperti beliau sendiri contohkan kepada pendahulunya.

Beliau mengatakan bagaimana ketika beliau menggantikan Mochtar Kusumaatmadja. Dari Pak Mochtar, beliau belajar betapa Pak Mochtar tetap berkonsultasi dengan Pak Alatas, meski Pak Mochtar tidak menjabat lagi sebagai Menlu. Dari Pak Mochtar, Pak Alatas belajar untuk legowo melepas tampuk kepemimpinan, tapi tidak meninggalkan penggantinya.

Itulah yang tetap dilakukan Pak Alatas sampai akhir hayatnya. Ia tetap berkonsultasi dengan saya sebagai penerusnya di Departemen Luar Negeri. Ia selalu menelepon saya, ''Hassan, saya mau mengeluarkan statemen seperti ini kepada wartawan. Ada masukan?''

Amanah itulah yang harus tetap saya pegang hingga saat ini, sebuah tradisi yang harus dibangun. Beliau memberi teladan bagaimana posisi tut wuri handayani itu dilakukan dengan ikhlas. Teladan itulah yang saya pikir masih sangat jarang bisa dilakukan di Indonesia.

Dalam bukunya, A Voice for A Just Peace, Pak Alatas menulis: ''A diplomat's work is never done'' (pekerjaan seorang diplomat tidak pernah berakhir). Pekerjaan seorang diplomat adalah membangun perdamaian. Bagi Pak Alatas, perdamaian bukan sekadar tidak ada perang. Perdamaian hakiki harus berlandaskan pada keadilan, di mana terdapat keseimbangan yang harmonis antara kebebasan dan tanggung jawab. Hanya di dalam harmoni itulah kerja sama antar-individu dan antar-bangsa menjadi sesuatu yang alami dalam kehidupan manusia.

Selamat jalan, Pak Alatas! Pejuang perdamaian dunia, pahlawan kita semua.

Hassan Wirajuda Menteri Luar Negeri RI
[Obituari, Gatra Nomor 6 Beredar Kamis, 18 Desember 2008]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah