Selasa, 12 Mei 2009

SBY-Boediono Versus Prabowo-HNW?

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

SBY-Boediono Versus Prabowo-HNW?

Peserta hajat politik Pilpres 2009 kini mulai mengerucut. Diiringi kehebohan merapatnya PDIP ke Demokrat, kabar kepastian Boediono sebagai cawapres SBY pun menambah suhu politik. Akankah terjadi pergeseran peta koalisi pada ‘injury time’ pendaftaran capres-cawapres?

Nampaknya kubu SBY dan Demokrat sedang ‘dimabuk’ kemenangan dan sangat yakin SBY akan memenangkan pilpres, walau dipasangkan dengan cawapres siapa pun. Sehingga pemilihan capres SBY tanpa memperhatikan tingkat elektabilitas, keterwakilan umat (Islam) dan unsur parpol. Sungguh pilihan yang kelewat berani (atau sembrono?)

Reaksi partai-partai yang dulunya menyatakan akan berkoalisi dengan SBY dan Demokrat memang baru sebatas wacana elit, belum pada keputusan resmi partai. Kelanjutan koalisi menyikapi pilihan Boediono sebagai cawapres SBY pun tetap jadi misteri. Namun riak-riak ‘kekecewaan’ mulai menjalar dan bisa berujung perubahan peta koalisi.

Menilik situasi ini sebetulnya partai-partai papan menengah bisa memainkan peran yang lebih signifikan dalam dinamika politik nasional. Tidak terkesan yang sekarang ini di mana partai-partai mediocre seperti hanya ‘pengekor’ dan ‘obyek pelengkap penderita’ permainan partai-partai besar yang makin lama tambah jumawa.

Sudah saatnya partai-partai menengah seperti PKS, PAN, PPP, PKB membuat blok baru dengan menggandeng Partai Gerindra. Lima partai itu kalau bersatu sudah mengantongi 196 kursi DPR atau setara 35 %. Menilik tingkat elektabilitas ‘koalisi baru’ ini bisa memajukan Prabowo-Hidayat Nur Wahid sebagai capres-cawapres. Perpaduan Nasionalis-Islam dengan semangat pemimpin muda.

Kalau ini terjadi, pertarungan pilpres akan lebih bergairah bagi rakyat, karena bisa diadu antara ekonomi kerakyatan Prabowo melawan ekonomi liberal kapitalis SBY-Boediono. Namun pasangan Prabowo-Hidayat punya kelebihan lain, yaitu dukungan wong cilik dan umat Islam.

Belum lagi kalau blok JK-Wiranto turut memperkuat ‘blok papan tengah’ dalam parlemen, maka akan tercipta ‘koalisi besar’ yang sesungguhnya dengan jumlah kursi DPR 319 setara 57%.

Jadi endingnya akan tercipta dua blok: Demokrat-PDIP vs Golkar-PKS-PAN-PPP-PKB-Gerindra-Hanura. Atau malah Demokrat akan teralienasi ditinggal semua parpol karena terlalu ‘serakah’ ingin menggandeng semua parpol?

Demokrat memang bersikap seakan-akan sudah memenangkan pilpres dan dengan sombong menentukan cawapres tanpa melibatkan parpol pendukung koalisi. “Anything can happen,” kata SBY. Termasuk memenangkan pileg tapi kalah di pilpres. Why not?

Bola sekarang berada di pihak partai-partai menengah. Akankah mereka berani mengambil peran bersejarah ini? Beranikah mereka membuang ego masing-masing? Waktu yang akan membuktikannya.

Yasmin Filistin

yasminfilistin@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah