Jakarta, Rakyat Merdeka. Belakangan ini, ancaman bom kembali marak di Indonesia, khususnya di daerah Jakarta dan sekitar. Berbagai analisa dan dugaan seputar banyaknya ancaman bom pun mencuat, salah satunya datang dari Pemerhati intelijen Muradi
Kepada Situs Berita Rakyat Merdeka siang ini (Senin, 19/3) Muradi mengatakan bahwa maraknya ancaman bom itu disebabkan menumpuknya ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan.
Selain itu, pengajar Ilmu Politik Pemerintahan Fisip Universitas Padjajaran melanjutkan, ancaman bom itu juga muncul dari oknum-oknum politik yang bermain dengan memperburuk kondisi keamanan di Indonesia, dan kecenderungan semakin tidak kondusifnya hubungan personal dan kerja di tubuh aparatur keamanan Indonesia khususnya Polri, yang dikarenakan problematika di tubuh aparat itu sendiri. Oknum-oknum itu, tambah Muradi, mencoba bermain untuk kepentingan suatu golongan maupun institusinya.
“Kondisi keamanan sekarang ini menjadi lahan bisnis, untuk dijadikan tawaran pengambilalihan kekuasaan,” ujarnya.
Muradi mengungkapkan, untuk memanggil aparat gegana saja, pihak yang menerima ancaman bom harus mengeluarkan uang sebesar Rp 3 juta. Dan dia melihat karakteristik teror-teror.
Pria yang juga mengajar di Universitas Paramadina ini juga menyebutkan bahwa di Indonesia, tidak pernah ada ancaman bom yang terbukti meledak dan jika ada bom yang meledak, maka tidak ada yang mengaku atau menyatakan bertanggungjawab.
PKS Story
![]() |
| Dapatkan PKS Toolbar Di sini: Gratis |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar