Selasa, 20 Maret 2007

Timur Tengah Menuju Perubahan ?

Adakah Perubahan di Timur Tengah?

Patrick Ceel

El-Hayat London

Sejak dua pekan tampaknya Timur Tengah berada di ambang perang. Kapal pengangkut pesawat siaga untuk melakukan invasi militer di jalan menuju Teluk. Dick Cheney, wakil presiden Amerika mengumbar ancaman bahwa jika Teheran tidak menghentikan pembiakan uraniumnya maka semua alternative bisa disampaikan dalam meja perundingan.

Tanpaknya juga para kelompok ektrim konserfatif di Amerika juga akan kembali mempengaruhi Wasington menyusul harian Weekly Standart corong kelompok ini menyerukan agar tidak menghentikan rencana perang terhadap Iran.

Tiba-tiba mendung pekat yang memenuhi langit Timur Tengah tersibak. Cuaca membaik menyusul perkembangan baru para diplomat Arab Saudi. Saudi mengantarkan terbentuknya kesepakatan Mekah antara Fatah dan Hamas bulan lalu sehingga terbentang dibentuknya pemerintah persatuan nasional Palestina. Prediksi juga mengarah, Saudi akan menyelenggarakan pertemuan serupa untuk kepentingan nasional jika pihak-pihak di Libanon tetap berseteru.

Perkembangan ini akan memperkuat kepemimpinan Arab Saudi di dunia Arab terutama karena memiliki pengaruh agama dan dana. Bahkan Riyadl mengancam hegemoni Amerika dengan melakukan dialog intens dengan Iran antara Pangeran Bandar Bin Sultan dan Ali Larjani, ketua Dewan Keamanan Nasional di negerinya masing-masing. Kemudian disusul pertemuan selanjutnya dilakukan di KTT dua pihak antara Raja Abdullah bin Abdul Aziz dan presiden Iran, Mahmud Ahamadinejad. Tentu kedua negara ini memiliki kepentingan bersama: 1. Menghentikan kekerasan kelompok Sunni dan Syiah di iran dan mencegah merembetnya ke kawasan Timur Tengah lainnya. 2. Memadamkan perang saudara di Palestina dan Libanon. 3. Menghalangi perang Amerika – Iran yang akan menimbulkan bencana baru di Timur Tengah terutama di negara teluk.

Dialog Saudi – Iran merupakan pengumuman kuat bahwa dua negara ini berambisi mempertahankan masalah yang mereka hadapi dengan kekuatan yang ada dan berusaha membebaskan kawasan mereka dari intervensi asing. Pesan ini disampaikan kepada Amerika yang pengaruhnya mulai dikerahkan di kawasan Timur Tengah setelah melakukan skandal perang di Irak.

Dari yang tanpak, semua yang terjadi merupakan persiapan KTT Arab yang hendak diselenggarakan di Riyadl pada 28-29 Maret ini. Di sini perlu diisyarakatkan, KTT Arab semacam ini hanya mengundang ejekan di masa lalu karena dianggap tidak efektif dan tidak ada gunanya. Apalagi tidak seorang pun menerapkan hasil keputusan KTT yang sudah diteken. Namun KTT yang akan digelar di Riyadl ini berbeda dengan lainnya. Ada perasaan semua pihak membutuhkannya. Diperkirakan akan digulirkan prakarsa perdamaian Arab yang diajukan oleh Raja Abdullah kemudian diadopsi oleh negara-negara Arab dalam KTT Beirut tahun 2000.

Prakarsa ini memberi janji kepada Israel dengan perdamaian, normalisasi hubungan dengan 22 negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab dengan syarat Israel menarik diri dari wilayah Palestina jajahan tahun 1967. Juga berisi tentang pendirian negara Palestina merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan ibukota Al-Quds Timur, menciptakan solusi yang adil bagi masalah pengungsi Palestina sesuai dengan keputusan Majlis Umum PBB no 194 (yakni para pengungsi Palestina dikembalikan ke kampung halaman mereka atau diberi gantirugi).

Namun Israel menolak prakarsa ini ketika diumumkan. Namun waktu telah berubah dan suara dari dalam Israel mulai mengeras seperti pernyataan Tseby Livni, Menlu Israel yang menilai bahwa prakarsa bisa menjadi dasar bagi perundingan.

Ada sejumlah perkembangan peristiwa baru yang mendorong Israel yakin bahwa kini telah tiba waktunya untuk menyambut jabatan tangan Arab yang sudah diulurkan; kesulitan-kesulitan yang dihadapi Amerika Serikat di Irak dan kepastian penarikan pasukan mereka dari sana, dimulainya dialog Amerika Serikat dengan Iran dan Suriah, kegagalan Israel dalam menggiling Hizbullah dalam perang terhadap Libanon musim panas lalu, ketidakmampuan Israel memberantas Hamas dengan aksi-aksi militernya atau embargonya saat ini, kembalinya Amerika berkomitmen dengan proses perdamaian Israel – Palestina, kebangkitan diplomasi Eropa seperti yang tanpak dari lawatan yang dilakukan Jafier Solana, jubir tinggi luar negeri Uni Eropa dan terakhir isolasi terhadap Suriah telah berakhir.

Barangkali factor yang mempengaruhi opini public Israel adalah hancurnya reputasi PM Ehud Olmert dan buruknya kinerja Menhan Amir Peretz. Sejumlah polling menunjukkan popularitas kedua tokoh turun mendekati titik nol. Keduanya kemungkinan akan dipaksa turun dari jabatannya setelah mantan jenderal Eliho Vinugor mengeluarkan laporan pertamanya tentang peristiwa yang menyebabkan meletusnya perang Israel atas Libanon yang berlangsung selama 34 hari. Disamping Olmert menghadapi kasus hukum terkait korupsi. Jika ia tersingkir diperkirakan kursi ketua Partai Kadema akan diduduki oleh Tsebi Livni. Sementara soal Partai Buruh kejatuhan Perets akan membuka peluang naiknya mantan PM Israel, Ehud Barak.

Livni dan Barak sudah memperkirakan kondisi strategi Israel berubah dari buruk kepada yang lebih buruk dan penentuan jadwal perdamaian final dengan Arab sudah tiba saatnya. Dalam muktamar partai Mei ini, bukan rahasia lagi, Barak akan menyaingi Peretz dalam bursa calon ketua Partai Buruh. Ia berniat memperbaiki kesalahannya selama menjadi PM Israel di tahun 1999 – 2000 karena menyia-nyiakan peluang berdamai secara final dengan Palestina dan Suriah. Adapun Livni, Menlu Israel ia akan berusaha berani lantang mengajak perdamaian dengan Arab seperti yang disuarakan pada muktamar AIPAC – organisasi lobi Yahudi terkuat di Amerika – pada 12 Maret lalu. Ia memberikan syarat bekerja sama dengan kelompok Arab moderat; kesiapan Arab memerangi terorisme, membebaskan serdadu Israel Galieth Salit, menghentikan serangan terhadap sipil, menindak tegas penyelundupan senjata melalui perbatasan Mesir – Gaza, kesiapan rakyat Palestina menerima perdamaian dan syarat-syarat referendum sejarah.

Inlah logat baru di Israel. Sesuatu yang berbeda sama sekali dengan logat yang didengung-dengungkan para ekstriis Israel seperti Benyamen Netenyahu yang bermimpi kembali memimpin Likud. Jika diperhatikan, ajakan Netenyahu kepada dunia agar mencegah para Ayatullah di Iran untuk tidak membuat bom nuklir adalah sebuah ajakan yang keluar dari koteks. Bahkan AIPAC sekalipun tidak lagi menyerukan perang terhadap Iran dan lebih memilih mengucurkan dananya untuk mengoyang ekonomi Iran.

Dan tanpaknya, pemerintah Bush sekarang berusaha secara diam-diam meluruskan kesalahan-kesalahannya di Timur Tengah dan menempuh strategi baru dengan diplomasi setelah selama ini secara arogan melakukan hegemoni di sana.

Condalizza Rice akan berkunjung ke Timur Tengah pada 24 Maret ini untuk melakukan pertemuan dengan Olmert dan Mahmod Abbas. Ia juga diperkirakan akan bertemu dengan delegasi Mesir, Arab Saudi, Jordania, Uni Emirat Arab. Ia juga akan bertemu dengan Tim Kwartet.

Rice juga akan ikut dalam pertemuan di Istanbul bulan depan untuk mengevaluasi hasil muktamar Baghdad pada 10 Maret lalu yang diikuti oleh 17 negara dan organisasi dalam rangka menjamin keamanan dan stabilitas di Irak.

Di sisi lain, negara-negara utama Eropa berusaha meyakinkan Amerika untuk membebaskan embargonya dari pemerintah persatuan nasional Palestina meski Hamas ikut di dalamnya. Hal ini akan menjadi ujian bagi independensi Rice dan kemampuannya. Apakah ia berhasikl mampu meyakinkan Amerika bahwa negaranya akan terus mengembargo Palestina sebagai solidaritas atas sikap Israel?

Namun perkembangan peristiwa di atas bukan berarti perdamaian telah menang: ada banyak kelompok ektrim yang loyak kepada Israel di pemerintah Amerika. Seperti, Eliot Abramaz di Dewan Keamanan Nasional Amerika, Stiwarat Leivi, Menteri asisten keuangan Amerika yang melakukan kampanye embargo system perbankkan dan perdagangan Iran.

Yang mengundang keanehan, Condalizza Rice belakangan menunjuk Eliot Cohen yang merupakan salah satu bintang perang atas Irak dan termasuk kelompok konservatif garis keras untuk menjadi penasehat di Departemen Luar Negeri Amerika dan akan bekerja bulan depan. Agaknya, penunjukan Cohen kontradiksi dengan gejala baru di pemerintah Amerika yang akan lebih menempuh jalan diplomasi dan perundingan bagi konflik-konflik. Ada sejumlah tafsiran Washingtin dalam melegitimasi kontradiksi ini, seperti dugaan bahwa harus menempatkan seorang kelompok konsevatif di samping Condalizza Rice untuk menjaganya di dalam dan luar Amerika jika Menlu ini serius mendorong Israel melakukan perundingan dengan Palestina.

infopalestina

*Kolumnis Inggris, Pakar Urusan Timur Tengah

Technorati icon

PKS StoryWirausaha Indonesia





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah