Gagah Wijoseno - detikcom
Jakarta - Tak ada partai yang melamar Agum Gumelar. Partai Demokrat yang semula naksir dia, mundur. Namun Agum tetap nekat merebut kursi DKI I.
"Lobi-lobi dan pendekatan kepada partai sudah dilakukan, penyampaian visi juga sudah. Saya akan melanjutkan yang mendukung saya," ujar Agum usai menghadiri seminar "Menuju Pilkada Jurdil Jakarta" di Kampus UI, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2007).
Agum juga mengatakan, dia hingga kini masih mencari partai lain untuk mendukung dirinya sebab tersiar kabar PAN akan mendukung dirinya namun agar suara memenuhi syarat, maka Agum harus mencari partai lain.
"Itu kan yang saat ini masih terus dilakukan," imbuh Agum yang mengenakan kemeja hitam lengan pendek dan celana panjang abu-abu.
Dalam kesempatan itu, Agum menepis isu bahwa dirinya mensponsori mantan tim suksesnya, Abdul Wahab Mokodongan, untuk dipasangkan sebagai cawagub bersama Foke.
"Waduh saya tidak tahu, malah saya baru tahu itu dari Anda," kilah dia
Gagal Jadi Cagub, Agum Kecewa pada Partai Demokrat
Partai Demokrat (PD) telah memilih Fauzi Bowo sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada 2007. Agum Gumelar pun kecewa dengan keputusan itu. Dia menduga, ada konspirasi dalam penjaringan calon gubernur.
"Saya menduga ada konspirasi dalam proses penjaringan, lebih mengutamakan kepentingan dan kekuasaan daripada aspirasi," kata mantan Ketua KONI ini.
Hal itu disampaikan dia dalam Seminar Menuju Pilkada Jurdil Jakarta di Gedung IASTH, Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (21/3/2007).
Kekecewaan Agum menggejolak karena sebenarnya sejak dulu, dirinya tidak punya niat untuk mengisi kursi orang nomor satu di Jakarta. Namun karena diminta langsung oleh Ketum PD Hadi Utomo, akhirnya dia bersedia.
"Waktu itu banyak pihak meminta saya untuk maju, tapi saya bilang tetap tidak. Sampai suatu ketika Ketum PD Hadi Utomo mengundang saya, menawarkan agar saya mau diusung jadi Gubernur DKI Jakarta. Sampai tim sukses pun sudah disiapkan. Tapi di tengah perjalanan ternyata PD tidak mengusung saya," beber Agum.
Meski kecewa, Agum mengaku bisa menerima. "Ini kan dalam tanda petik ketidakadilan bersama, tapi inilah politik, saya harus menerima," tandasnya
PKS Story
![]() |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar