Senin, 07 Januari 2008

Obama dan Para Pemimpin Kita

Obama dan Para Pemimpin Kita

Oleh Limas Sutanto

Adakah sesuatu yang dapat dijadikan ukuran kebenaran perilaku atau keputusan manusia? Jika kita menggunakan perspektif kesehatan jiwa (mental health), kematangan diri (ego maturity), dan kematangan kepribadian (personality maturity), ukuran tersebut adalah sejauh mana perilaku atau keputusan manusia itu realistik (benar-benar berdasarkan kenyataan). Sifat realistik menandai perilaku dan keputusan yang benar. Dalam sifat realistik itu sekaligus terkandung sifat objektif dan rasional. Maka dapat dikatakan, suatu perilaku atau keputusan yang benar selalu merangkum tiga sifat: realistik, objektif, dan rasional.

Saya tergelitik untuk mengemukakan ukuran kebenaran itu karena dua paparan peristiwa. Peristiwa pertama adalah kemenangan Barack Obama dalam kaukus para calon presiden dari Partai Demokrat di Iowa, Kamis, 3 Januari 2008. Peristiwa kedua adalah gelaran bencana parah dan tak henti-henti --terutama banjir dan tanah longsor-- yang melanda Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan berbagai wilayah lain di tanah air.

Kedua peristiwa itu memang tidak berhubungan langsung. Namun, kemenangan Obama dalam kaukus Iowa dapat memberikan inspirasi dan latar untuk menyadari betapa buruknya kualitas para politisi dan pemimpin di negeri kita, sebagaimana terbukti oleh kenyataan bahwa mereka "relatif tidak berbuat banyak" untuk mencegah dan mengatasi bencana yang melanda saudara kita yang sebagian besar miskin itu.

Mengapa Obama menang? Obama, disebut-sebut, adalah politisi muda yang mengejawantahkan politik pengabdian tak kenal lelah. Selama delapan tahun, ia mengurusi warga dan lingkungan di tempat-tempat kumuh, mencari lowongan pekerjaan untuk penganggur, mendirikan pusat pendidikan untuk remaja, memaksa gubernur membongkar bangunan yang menggunakan asbes karena bahan bangunan itu dapat menimbulkan kanker, memperluas jaringan organisasi antikenakalan remaja, membuat sistem manajemen pembuangan sampah, serta memperbaiki jalan rusak dan selokan yang tersumbat.

Pada perspektif ini, kita melihat betapa masyarakat pemilih di Iowa, yang memutuskan untuk memilih Obama dalam kaukus, telah menampilkan perilaku dan keputusan yang realistik, objektif, dan rasional. Mereka memilih Obama karena politisi muda ini bertindak nyata mengurusi rakyat selama bertahun-tahun. Mereka memilih Obama bukan karena politisi berlatar hidup multirasial itu berpenampilan memesona. Bukan pula karena reka pencitraan dan pengesanan yang berhasil. Pada titik ini muncul pertanyaan reflektif yang penting bagi masa depan kita di Indonesia, sudahkah kita selama ini memiliki perilaku realistik, objektif, dan rasional dalam memilih politisi dan pemimpin?

Para politisi dan pemimpin yang berkualitas buruk di negeri ini tentu tidak banyak berbuat untuk mengurusi rakyat yang dilanda masalah dan kesengsaraan bertubi-tubi. Tidak mengherankan, genangan air yang menyengsarakan rakyat di negeri ini tak kunjung sirna, rakyat terus terendam dalam penderitaan, sementara para politisi dan pemimpin tak kunjung tergelitik untuk bertindak nyata mengurangi penderitaan itu secara bermakna. Mereka lebih banyak berkata-kata manis saja. Bahkan di tengah penderitaan rakyat miskin, mereka masih selalu sibuk mengurus peraihan kekuasaan untuk diri sendiri. Ironis, para politisi dan pemimpin itu adalah hasil pilihan kita sendiri. Bukankah kita "telah melaksanakan pemilihan para pemimpin secara demokratis", melalui berbagai macam proses pemilihan umum pada berbagai tingkat, mulai dari tingkat nasional (untuk memilih presiden, wakil presiden, dan para anggota DPR) hingga tingkat daerah (untuk memilih gubernur, bupati/wali kota, dan para anggota DPRD)?

Dalam kurun waktu 62 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kita telah memilih enam presiden. Apakah kita telah memilih mereka secara realistik, objektif, dan rasional, dalam arti memilih berdasarkan kenyataan bahwa orang yang kita pilih untuk menjadi presiden itu selama bertahun-tahun mengurusi rakyat, berbuat nyata mengurangi dan menghilangkan penderitaan rakyat, serta bertindak nyata mengatasi masalah-masalah rakyat? Mungkin rakyat Indonesia telah bertindak realistik, objektif, dan rasional ketika memilih Soekarno sebagai presiden pertama, karena kenyataannya memang Soekarno pernah bertahun-tahun mengurusi rakyat Indonesia, yang pada konteks zaman perjuangan kemerdekaan terutama berarti memimpin perjuangan kemerdekaan dan berbuat nyata untuk mewujudkan kemerdekaan rakyat Indonesia. Kemudian, rakyat Indonesia memilih Soeharto sebagai presiden, menggantikan Soekarno. Pemilihan Soeharto sebagai presiden lebih terkesan sebagai buah pencitraan politik yang menempatkan tokoh itu sebagai pahlawan, bukan karena catatan tindakan-tindakan nyata Soeharto dalam mengurusi rakyat.

Pengganti Soeharto, B.J. Habibie, dipilih sebagai presiden lebih karena dia menjabat wakil presiden ketika Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden. Kemudian, rakyat Indonesia memilih Abdurrahman Wahid sebagai pengganti Habibie. Sebenarnya terdapat cukup banyak catatan yang menunjukkan bahwa Abdurrahman Wahid telah berbuat nyata selama bertahun-tahun mengurusi rakyat, sebelum dirinya terpilih sebagai presiden Republik Indonesia.

Akan tetapi sayang, ia dilengserkan di tengah jalan karena reka politik. Megawati Soekarnoputri yang menggantikan Abdurrahman Wahid sebagai presiden, agaknya dipilih lebih karena citranya waktu itu sebagai "tokoh yang membela rakyat kecil". Citra itu diperkuat karena dia adalah anak dari mendiang presiden pertama Soekarno. Dan terakhir, rakyat Indonesia memilih Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden, dalam pemilihan langsung yang pertama kali diselenggarakan di negeri ini. Terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono tidak terlepas dari pencitraan yang berhasil.

Kita menghormati setiap pemimpin kita, bahkan kita pun menghormati setiap mantan pemimpin kita. Kita pun niscaya secara tulus memberikan dukungan penuh dan memberikan kesempatan yang luas kepada setiap pemimpin untuk bekerja melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya hingga selesai.

Namun, di tengah deret pengalaman kita dalam memilih pemimpin (termasuk pengalaman kita memilih gubernur, bupati/wali kota, anggota DPR, dan anggota DPRD), kita boleh merenung dan membuat penilaian kembali, sudahkah selama ini kita memilih pemimpin secara realistik, objektif, dan rasional, berdasarkan kenyataan bahwa orang yang kita pilih sebagai pemimpin itu selama bertahun-tahun benar-benar mengurusi rakyat, berbuat nyata mengurangi dan menghilangkan penderitaan rakyat, dan bertindak nyata mengatasi masalah-masalah rakyat?

Demi masa depan yang lebih baik, mulai kini dan seterusnya kita perlu memilih politisi dan pemimpin secara realistik, objektif, dan rasional.***

Penulis, pengajar psikoterapi pada program studi Psikologi fakultas Ilmu pendidikan dan pengajar konseling pada program pascasarjana Universitas Negeri Malang.



SMSPlus :. PKS Partai Keadilan Sejaktera Di Indonesia 2009 Apa Kata Media :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah