Rabu, 14 Mei 2008

Amien Memang Kritis, Tapi...

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Amien Memang Kritis, Tapi...

INILAH.COM, Jakarta – Siapa juga tahu M Amien Rais termasuk tokoh pendorong reformasi. Tapi, di luar kritik-kritik verbalnya, apa yang sudah ia kontribusikan dalam 10 tahun perjalanan reformasi bagi bangsa ini? Tentu, publik bisa menilai dengan jujur.

Dalam peluncuran buku Agenda – Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!, Selasa (13/5), lagi-lagi Amien menyatakan dengan nada kritis bahwa kebangkitan nasional seharusnya mengisyaratkan kemandirian bangsa yang tercermin pada lima kedaulatan, yaitu politik, ekonomi, hukum, sosial, dan pendidikan.

"Kelima kedaulatan itu sudah rapuh. Saya melihat negeri ini sudah karut marut. Pemerintah sudah centang perenang. Tidak ada koordinasi yang rapi. Semua harga kebutuhan bahan pokok naik, ibu-ibu mengantre minyak tanah, infrastruktur hancur, seolah-olah tidak ada masa depan lagi," kata Amien.

Dua permasalahan besar bangsa Indonesia juga dipersoalkan Amien. Keduanya adalah utang yang mencapai US$ 148 miliar, penduduk miskin yang menurut Biro Pusat Statistik mencapai 39,05 juta atau 109 juta orang versi Bank Dunia.

Jujur saja, dalam banyak kesempatan, Amien kurang memilih dan menata kata demi kata yang diucapkannya. Terlalu mudah baginya menggunakan kata-kata yang tidak pantas diucapkan tokoh nasional sekelas Amien.

Kerap kali Amien juga kurang menyadari situasi dan permasalahan yang up to date. Boleh jadi ia merasa bahwa makin keras dan kasar kata-kata yang dilontarkannya berarti makin hebat.

Tentang rencana kenaikan harga BBM bersubsidi yang dikritisi Amien, Wapres M Jusuf Kalla sendiri sudah menyatakan dengan gamblang bahwa pemerintah akan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rp 100.000 per bulan kepada 19,1 keluarga miskin sebagai kompensasi.

Pemerintah juga akan memberikan bantuan komoditas pangan berupa minyak goreng dan gula selama satu tahun. Soal utang, JK mengatakan, Indonesia tidak bisa melakukan hair-cut atau pemotongan utang dari para kreditor karena tidak masuk dalam klasifikasi negara miskin.

Lalu, kritikan Amien bahwa salah satu kegagalan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) adalah di bidang pendidikan, ia seakan mengcoreng mukanya sendiri. Sebab, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo adalah kader Partai Amanat Nasional (PAN) yang didirikannya.

Kritikan Amien tentang kemiskinan bak mengekor Wiranto. Dan, itu patut disentil karena ia seperti tidak punya sense of crisis. Terutama jika dikaitkan dengan iklan mejeng gede-gedean dari Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir di jalan raya, di televisi, dan surat kabar dalam porsi besar yang tentu menghabiskan banyak uang.

Ekonom Sri Edi Swasono termasuk yang mengkritisi iklan itu. "Baliho Pak SB besar sekali di Yogya. Seperti bintang film saja," katanya.

Menurut Sri Edi, slogan 'Hidup adalah Perbuatan' dalam iklan diri Sutrisno Bachir itu sama sekali tidak memberikan manfaat dan inspirasi bagi masyarakat. "Saya termasuk yang tidak ngerti maksudnya. Kata-katanya harus refresh our mind to move," ungkapnya.

Terpenting, sebenarnya, anggaran dari PAN untuk menjajakan wajah sang ketua umum untuk kepentingan politik tertentu. Sebenarnya lebih berguna jika dana itu disalurkan untuk membantu rakyat miskin.

Yang juga mengenaskan, Amien adalah tokoh politik yang berada di garis terdepan saat mengusung KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk maju sebagai capres di awal era reformasi 1999.

Gus Dur benar-benar jadi Presiden RI. Tapi, ujung-ujungnya, Amien jugalah yang berada di garis terdepan ketika menjatuhkan Gus Dur. Tak heran jikka pada 22 Juli 2002 Amien berada di rumah Megawati Soekarnoputri dan mengatakan kepada para wartawan, “Sekarang kita punya pemimpin baru...”

Amien yang kritis seakan tak mampu mengkritisi dirinya sendiri, mengkritisi kader dan partai yang didirikannya. Lebih-lebih ketika ia melecehkan JK lewat penyebutan 'Jusuf Kolo' dalam acara Debat 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang ditayangkan Metro TV, Selasa (13/5) malam.

Banyak pihak prihatin dan menyesalkan lontaran bernada pelecehan dari Amien itu. Lontaran yang menghina, tidak kontekstual, tidak santun, dan tidak mencerminkan cara berpolitik yang elegan.

Orang bijak bilang, 'gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan malah terlihat'. Ingat pula pepatah 'pemain bola terhebat adalah para penonton pertandingan bola itu sendiri'.

Seperti itukah Amien? Memangnya apa sih yang dihasilkannya ketika menjabat Ketua MPR-RI?

Ah, biarlah publik yang menilai. Publik yang sudah makin dewasa dan jujur dalam berpikir, berbicara, bertindak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah