Sabtu, 31 Mei 2008

Pemilu 2009 : Partai Menengah Agresif

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Type rest of the post here


Agresivitas Partai-Partai Medioker?
sindo, Saturday, 31 May 2008

Kita tidak bisa membantah bahwa jumlah partai politik di Indonesia tergolong banyak. Namun, sebenarnya parpol yang banyak itu bisa disederhanakan ke dalam tiga kelompok, yakni partai besar,partai sedang,dan partai kecil.

Partai besar adalah partaipartai yang suaranya berada di kisaran 20%. Partai kecil adalah partai-partai yang perolehan suaranya di bawah 3%.Angka 3% ini merupakan ambang batas pemilu menurut UU Pemilu Legislatif yang lama, meski akhirnya dianulir UU 10/2008 yang merupakan UU Pemilu Legislatif yang baru.Partai tengah adalah partai-partai yang perolehan suaranya ada di kisaran itu (3–20%).

Jika melihat kategorisasi itu, hanya ada dua parpol besar menurut hasil Pemilu 2004,yakni Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai sedang ada lima, yakni PKB, PPP,PD,PKS,dan PAN.Partai kecil ada 17, termasuk PBB, PBR,PDS,dan seterusnya.

Setiap partai politik tentu ingin berkembang. Parpol kecil mau jadi parpol sedang. Parpol sedang ingin jadi parpol besar.Parpol besar ingin jadi parpol dominan. Parpol dominan ingin jadi parpol hegemonikal. Apakah ini mungkin? Mengapa tidak? Contoh parpol kecil jadi parpol sedang adalah PKS yang berupa PK pada 1999. Contoh parpol sedang yang jadi besar adalah PDIP pada saat Pemilu 1999.

Pada 1999 dan 2004 malah ada partai yang baru pertama kali ikut pemilu, langsung melejit jadi partai menengah. Contohnya,PKB dan PAN (pada 1999). Sementara pada 2004 muncul Partai Demokrat (PD). Kalau kita lihat hasil-hasil survei nasional yang kredibel dalam tiga tahun terakhir, tampak ada aspek dinamis dan aspek statis dari dukungan terhadap parpol Indonesia.

Aspek dinamisnya terlihat dari naik turunnya dukungan terhadap setiap partai. PD misalnya, pernah meloncat jadi nomor satu awal 2005 akibat imbas popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menang pilpres. Namun, setahun kemudian posisi itu diambil alih Golkar.Pada 2007,PDIP kembali berjaya.

Aspek statisnya terlihat pada dua hal. Pertama, menurut seri survei yang sama,7 besar partai terkuat 2005– 2007 masih sama dengan hasil Pemilu 2004. Sampai akhir 2007, geliat partai baru belum kelihatan. Geliat secara organisasi dan sosialisasi memang sudah.Namun, geliat secara elektoral belum terlalu nampak. Semua parpol baru belum ada yang menembus ”the big seven” itu.

Aspek statis kedua,partaipartai kecil belum ada yang naik kelas jadi partai menengah. Sebaliknya, partai menengah nyaris tidak ada yang mampu naik kasta jadi partai besar pula.Partai menengah yang sempat menembus kategori parpol besar adalah PD seperti disebutkan tadi (angkanya sempat mencapai 28%).Tapi, kemudian melorot ke angka 14% (Indo Barometer, Desember 2007).

Partai lain yang sempat mengalami bulan madu pascapemilu 2004 adalah PKS. Partai ini sempat menembus 10% awal 2005 meski kemudian menurun. Seperti dikatakan tadi, tentu semua partai ingin naik kelas dalam Pemilu 2009. Namun, yang menarik, tampaknya manuver-manuver paling ramai saat ini justru datang dari partai-partai kelas menengah ketimbang partai besar.

Golkar memang tetap rutin dengan aneka kegiatan kaderisasi dan konsolidasi, tetapi belum sampai ke titik yang mampu menyita perhatian publik. PDIP cukup baik dengan aneka kemunculan di media lewat pernyataan maupun aksi-aksi anggota DPR. Namun, yang lebih menonjol adalah kiprah sang ketua umum, Megawati Soekarnoputri, yang telah menggelar safari politik di tiga pulau terbesar Indonesia, yakni Jawa,Sumatera,dan Sulawesi.

Beberapa partai menengah yang cukup agresif dalam kerangka 2009, antara lain PKS dan PAN. Selain kegiatan-kegiatan yang sudah menjadi trade mark mereka seperti aneka kegiatan sosial, PKS mencoba menggebrak dengan menggulirkan wacana partai terbuka yang dicanangkan di Denpasar, Bali, pada Februari tahun ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari upaya stereotifikasi politik pada PKS sebagai partai yang hanya mengakomodasi segmen masyarakat tertentu saja.

Upaya lain yang dilakukan PKS adalah melalui kemenangan-kemenangan di pilkada. Khususnya di beberapa provinsi yang memiliki nilai simbolik tinggi. Hal ini mungkin pada awalnya tidak sengaja ketika pasangan Ahmad Heryawan- Dede Yusuf memenangkan Pilkada Jawa Barat, tetapi kemudian diseriusi lewat proyek Sumatera Utara dan tentu menyusul tempattempat lainnya. Partai lain yang juga agresif secara politik adalah PAN.

Partai ini mirip PDIP yang mengandalkan pada figur Mega sebagai lokomotif untuk menghela suara pemilih di Pemilu 2009. Untuk PAN lokomotif itu adalah Soetrisno Bachir yang telah melakukan apa yang barangkali merupakan kampanye iklan sosok berbasis dana pribadi yang paling masif dalam sejarah politik Indonesia.

Kita tahu persis berapa lama SB,panggilan akrabnya,akan melakukan kampanye semacam ini.Yang kita dengar, dia akan mengulangi beberapa kali di beberapa momentum sampai coblosan 2009. Apakah upaya SB akan berhasil? Kita belum tahu apakah cara membangun popularitas yang dilakukan SB akan efektif. Kalaupun efektif untuk menaikkan popularitas SB pribadi, apakah juga efektif untuk mendongkrak suara PAN?

Apakah pola yang terjadi pada SBY dan PD akan terulang pada SB dan PAN? PKS dan PAN termasuk beruntung karena sekarang mereka bisa mengambil posisi ofensif kurang lebih setahun sebelum pemilu legislatif. Beberapa partai menengah lain tidak atau belum bisa melakukan hal serupa akibat masalah yang melekat pada masing-masing partai tersebut.

PKB misalnya. Pada Pemilu 1999 dan 2004,partai ini menjadi leader dari partaipartai menengah karena perolehannya yang tertinggi.Kelihatannya PKB akan kesulitan melakukan hal ini tahun depan karena konflik internal mereka yang sangat keras.Waktu dan energi PKB terserap habis untuk berkelahi dengan sesama teman. Parahnya lagi, jika masalah ini tidak tuntas per akhir Juli 2008, di saat partai sudah harus mengambil formulir daftar caleg, PKB bisa terancam tidak muncul lambang partai dan nama calegnya di surat suara.

Partai Islam lainnya,yakni PPP, sebetulnya sudah cukup aman dari potensi konflik internal. Yang menjadi problem, partai ini belum kunjung mampu mengidentifikasi kelebihan diri dan tema besar untuk sosialisasi yang mereka usung dari sekarang. Beberapa waktu lalu pernah adabanyakspandukPPPyang bunyinya kurang lebih PPP sebagai ”jalan baru”.

Pertanyaannya, jalan baru apa, seperti apa,dan mau ke mana? Tanpa perumusan tema andalan yang jelas, sulit bagi PPP untuk bisa meraih simpati publik dengan signifikan. Apalagi, saat bersamaan PPP belum memiliki sosok kepemimpinan yang kuat. Partai menengah yang sekarang jadi partai berkuasa, yakni PD, sebenarnya berpeluang besar melakukan revolusi pemilu dengan cara menjadi partai terbesar di Indonesia.

Namun, partai ini masih kekurangan SDM dan banyak disibukkan dengan peran sebagai bemper politik pemerintah. Hantaman-hantaman yang harus diterima PD semakin keras dengan kenaikan BBM pada Mei 2008. Jika PD masih terus menerima hantaman lain di masa datang,PD akan sibuk dengan kegiatan menangkis alih-alih melakukan serangan politik. Di titik ini, suara PD akan stagnan dan bahkan bisa terancam menurun.(*)

Muhammad Qodari
Direktur Eksekutif Indo Barometer, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah