Sabtu, 31 Mei 2008

Pemilu 2009 : PKS Jalan Tengah

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Type rest of the post here


Politik Jalan Tengah
sindo, Saturday, 31 May 2008

Partai papan tengah terus menunjukkan agresivitasnya jelang Pemilu 2009.Asumsi bahwa parpol besar mulai keropos dan partai menengah mulai bangkit masih harus dibuktikan secara lebih konkret.

Agresivitas partai tengah kini tengah menyeruak. Kondisi ini bisa direpresentatifkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Iklan layanan masyarakat terkait peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang dilakukan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir (SB) bisa menjadi indikasi.

Begitu juga dengan kemenangan di sejumlah daerah dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) yang diraih PKS, makin menguatkan asumsi bahwa partai tengah berusaha keras mendulang suara jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

‘’Saya tidak mengklaim PKS akan mendominasisejumlahdaerah.Namun, saya ingin katakan bahwa dominasi GolkardanPDIPsudahberakhir.Inibisa berimplikasi pada Pemilu Legislatif 2009 maupun pilpres,’’ kata Presiden PKS Tifatul Sembiring kepada SINDO ketika mengomentari kemenangan PKS di pilkada sejumlah daerah beberapa waktu lalu.

Namun,Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum menilai proses politik pilkada akan berbeda dengan pemilu. Dia meyakini bahwa dalam pilkada, faktor primer yang menentukan adalah sosok kandidat. Sementara partai cenderung sekunder. ‘’Fenomena pilkada itu tidak serta-merta menggambarkan realitas politik Pemilu Legislatif 2009. Otomatis hal itu pun tidak bisa menjadi cermin Pilpres 2009,’’ tegas Anas.

Setidaknya hasil pilkada di sejumlah daerah mengindikasikan perubahan peta politik di masyarakat. Figur baru menjadi harapan rakyat dan kekuasaan politik lama tampaknya sudah tak laku lagi.Tetapi,satu hal yang menarik,baik PKS maupun PAN berangsur-angsur mulai melepaskan ”baju lama”yang melekat selama ini, sebagai partai berbasis agama.

Kedua partai tengah itu mulai menunjukkan diri sebagai partai plural yang bisa diterima semua kalangan. Apa yang dilakukan kedua partai tersebut menjadi fenomena,sekaligus ”pendidikan politik” bagi partaipartai lain bahwa keduanya menjadi partai yang mampu memahami tandatanda zaman dan membaca secara teliti pertumbuhan nalar politik masyarakat akar rumput.

Sebab, rakyat tidak bisa lagi hanya diiming- imingi janji-janji palsu, tetapi butuh komitmen politik yang bisa dipercaya. Majalah Newsweek (5 April 2004) menilai fenomena PKS sebagai salah satu fakta baru politik Islam di Indonesia dan menunjukkan kemunduran kelompok radikal (radical retreat).

Bagi PKS sendiri, ada pergeseran isu, dari formalisasi syariat menjadi isuisu kemanusiaan, seperti keadilan, kesejahteraan,dan kedamaian. Begitu juga ketika partai lain hanya mengandalkan kebesaran partai dan tokoh,kedua partai ini mencoba untuk melepaskan diri dari romantisme politik semacam itu.

Setidaknya,PKS ataupun PAN saat ini mencerminkan bukan lagi sebagai partai ”aliran”, apalagi ”fundamentalis” dalam arti sempit. Mereka berangsur-angsur berubah menjadi partai terbuka. Boleh jadi ini juga sebagai cerminan jalan tengah (the third way) pemikiran Anthony Gidden bahwa harus ada toleran, terbuka, yang memberikan ruang bagi semua orang untuk bisa mengembangkan diri.

Mungkin inilah yang disebut Anthony Gidden sebagai kosmopolitan pluralisme. Tidak hanya mengakomodasi pluralisme pada tingkat kebangsaan, tetapi sekaligus punya wawasan kosmopolitan. Satu bukti ditunjukkan PKS,yakni lebih menonjolkan keindonesiaan ketimbang keislaman ketika kampanye pilkada di Jawa Barat dan Sumatera Utara.

Dalam surat suara Pilkada Jawa Barat, foto pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (PKS dan PAN) tidak menggunakan kopiah. Berbeda dengan kandidat lainnya yang menggunakan peci sebagai simbol identitas keislaman. Sementara di Sumatera Utara, pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho (koalisi PKS dengan partai berhaluan Islam, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Bulan Bintang), lebih menyodorkan 3T plus 1P (Rakyat: tidak lapar, tidak bodoh, tidak sakit,punya masa depan).

PKS punya pengalaman ketika masih mengusung warna kental keislamannya. Pada Pemilu 1999, ketika masih bernama Partai Keadilan, partai ini hanya meraih 1,5% suara dan tidak lolos electoral treshold. Kemudian, pada 2004 PKS mengubah citra dengan lebih mengedepankan diri sebagai partai yang memiliki komitmen dalam upaya menegakkan pemerintahan yang bersih, lewat tema kampanye antikorupsi.

Hasilnya,PKS meraih 7,34% suara. Pelaksanaanpilkadadiawal2008menyajikan fakta-fakta baru. Kemenangan beberapa calon yang tidak diunggulkan dan diusung ”partai menengah” dianggap sebagai terobosan yang akan mengguncang Pemilu 2009. Beberapa asumsi antitesis pun dibangun untuk menjelaskan ”era baru” yang akan mewarnai pemilu mendatang.

Tetapi, apa yang terjadi dengan fenomena partaitengahsaatinimengingatkankita pada pidato kemenangan calon presiden Amerika Serikat Barack Obama pada Kaukus Partai Demokrat di Iowa,awal Januari lalu. ”The status quo lost and change won,”ujar Obama. (faizin a/abdul malik/islahuddin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah