Senin, 26 Mei 2008

PILKADA JATENG : Purnawirawan Bukan Jaminan Menang

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Type rest of the post here


Purnawirawan vs Birokrat
Sunday, 25 May 2008

Masyarakat Jateng cenderung menghendaki sosok purnawirawan TNI sebagai pemimpin.Namun,peluang birokrat tetap besar untuk jadi nomor satu di Jateng.

Hal tersebut tercermin dari survei yang diselenggarakan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) mengenai persepsi masyarakat Jawa Tengah (Jateng) terhadap Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng. Survei yang dilakukan pada 14–25 April 2008 terhadap 1.191 responden tersebut, menunjukkan masyarakat Jateng cenderung memilih calon gubernur (cagub) yang berlatar belakang purnawirawan militer ketimbang cagub yang berasal dari kalangan birokrat, tokoh partai, ataupun tokoh masyarakat (lihat grafis).

Berdasarkan hasil survei tersebut, 35,94% responden menyatakan lebih menyukai cagub yang berasal dari purnawirawan. Persentase tersebut tidak beda jauh dengan persentase responden yang lebih menyukai sosok birokrat berpengalamansebagaiGubernur Jateng 2008– 2013 (32,07%). Sisanya,menghendaki Jateng dipimpin oleh tokoh partai (16,96%) dan tokoh masyarakat (15,03%).

Sementara itu, masyarakat cenderung menyukai cawagub yang berasal dari kalangan birokrat berpengalaman (37,95%). Hanya sekitar 28,97% responden yang menghendaki cawagub berasal dari kalangan purnawirawan militer. Sementara persentase pendapat responden yang menyukai cawagub dari tokoh partai dan tokoh masyarakat berturut-turut adalah 18,30% dan 14,78%.

Panggung politik purnawirawan?

Tingginya antusiasme masyarakat Jateng terhadap sosok purnawirawan semakin menegaskan peran politik mantan tentara di panggung politik daerah.Misalnya, pertarungan pada Pilgub Jawa Barat (Jabar) dan Pilgub Sumatera Utara (Sumut) lalu. Pada Pilgub Jabar, sosok purnawirawan militer sekaligus tokoh nasional Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar tampil sebagai cagub.

Sedangkan pada Pilgub Sumut diwarnai tampilnya kandidat purnawirawan yang diusung PDIP yakni, Mayjen TNI (Purn) Tritamtomo. Kehadiran sosok purnawirawanmilitersebagaicagub Jateng pun membawa atmosfer tersendiri dalam pesta demokrasi lokal yang akan digelar pada 22 Juni nanti.

Seperti kita ketahui, terdapat dua sosok purnawirawan yang ”bertempur” sebagai cagub di dalam Pilgub Jateng.Cagubtersebutadalah Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo yang dicalonkan PDIP dan Mayjen TNI (Purn) Agus Soeyitno yang diusung PKB. Selain didorong latar belakang kedisiplinan khas militer,figur kedua sosok mantan perwira tinggi TNI di atas pun cukup akrab di mata para calon pemilih. Keduanya sama-sama pernah bertugas di wilayah Jateng sebagai Pangdam IV/Diponegoro.

Bibit Waluyo pernah memegang jabatan itu pada 1998–2000, sementara Agus Soeyitno pernah menjadi Pangdam IV/Diponegoro periode 2006–2008. Dengan modal yang sama, keduanya kini sama-sama bersaing untuk membuktikan siapa yang paling pantas memimpin Jateng.

Tak hanya bermodal figur dan kedekatan dengan calon pemilih,kapabilitas keduanya pun tidak diragukan. Apalagi sejarah membuktikan bahwa ”barak” Diponegoro telah mencetak tokoh-tokoh militer yang mumpuni. Tak kurang dari mantan Presiden RI Jenderal TNI(Purn) Soeharto dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mayjen TNI (Purn) Mardiyanto pernah memimpin kesatuan militer yang bertempat di tanah kelahiran pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Mardiyanto bahkan pernah menjabat Gubernur Jateng selama dua periodeberturut- turut,yaknipada 1998–2003 dan 2003–2007.

Tentara bukan jaminan

Hasil survei yang menyatakan kecenderungan masyarakat Jateng memilih cagub yang berasal dari purnawirawan TNI tentunya memberikan angin segar bagi para cagub mantan tentara. Namun, potensi cagub yang berasal dari kalangan birokrat, tokoh partai, dan tokoh masyarakat tidak boleh dipandang sebelah mata.

Mengacu pada hasil survei, perbandingan persentase antara pendukung purnawirawan dengan pendukung birokrat berpengalaman terbilang tipis,hanya 3,87%.Apalagi kalangan birokrat memiliki keunggulan pengalaman menjalankan roda pemerintahan yang belum tentu dimiliki calon yang berasal dari militer. Faktor pengalaman itu pun terbukti ampuh sebagai modal untuk mengantarkan sang kandidat menuju kursi kepala daerah.

Hasil gelaran pemilihan kepala daerah seperti di DKI Jakarta dan Banten sudah membuktikan hal tersebut. Begitu pula dengan peluang cagub yang berasal dari tokoh partai dan tokoh masyarakat. Pilgub Sumut yang dimenangkan pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho (koalisi partai yang dipimpin PKS-PPP) maupun Pilgub Jabar yang dimenangkan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (PKS-PAN) adalah buktinya.

Keberhasilan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf mencengangkan.Sebabmereka bisa mengalahkan cagub Agum Gumelar yang notabene adalah tokoh militer populer.Padahal, pasangan dengan sebutan Hade tersebut bukan berasal dari militer dan belum berpengalaman menangani roda pemerintahan di Jawa Barat. Melihat hasil survei Puskaptis, peta pertarungan politik Pilgub Jateng agaknya akan terjadi pertarungan ketat antara cagub purnawirawan dengan birokrat berpengalaman.

Kedua golongan ini berpotensi besar membangun loyalitas calonpemilihpadapilgubnanti. Namun, bukan berarti cagub tokoh partai maupun masyarakat tidak punya peluang sama sekali.Sebab, kultur masyarakat Jateng memiliki karakteristik yang unik, berdasarkan keragaman wilayah, agama, maupun politik kesejarahan. Potensi keragamaninilahyangakandimanfaatkan cagub-cagub yang berasal dari luar lingkungan militer dan birokrat untuk membangun loyalitas pemilih. (m azhar/litbang SINDO)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah