Kamis, 05 Juni 2008

Menanggapi Kasus Monas, Peluang Bagi PKS untuk Membina

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Type rest of the post here



05/06/2008 16:28
PKS Harus Membuka Diri
Ahluwalia


INILAH.COM, Jakarta – Kedekatan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan sejumlah kelompok Islam garis keras, ikut menyenggol mereka dalam insiden Monas. PKS harus legowo membuka diri bagi aspirasi Islam dan non-Islam.

Dengan membuka diri, PKS akan mewujudkan diri mereka dalam kebhinnekaan dan keindonesiaan. Mereka juga dituntut mengayom kaum muslim yang dicat publik sebagai radikal yang citranya terpuruk akibat insiden Monas.

Dengan begitulah, PKS akan menjadi partai Islam berbasis dan bervisi kebangsaan. Ini sesuai dengan pernyataan mereka pada pertemuan besar partai di Bali baru-baru ini, bahwa PKS menjelma menjadi partai terbuka. “PKS berpotensi menyantuni kaum Muslim yang dicap radikal itu,” kata Muhamad Ali PhD, dosen UIN Jakarta.

Bagaimanapun, sebagai salah satu anak yang lahir dari reformasi, PKS paham bahwa sejak jatuhnya rezim Soeharto pada 1998, telah terjadi sejumlah konsekuensi sosial-politik bagi gerakan Islam Indonesia. Konsekuensi itu, karena radikalismenya, memberi citra negatif terhadap Islam.

Hal ini antara lain ditandai dengan kehadiran Front Pembela Islam (FPI ), Laskar Jihad, Forum Komunikasi Ahlusunnah Waljamaah (FKAWJ), Majelis Mujahidin, dan organisasi yang sejenis. “Mereka harus diakomodir dalam PKS. PKS juga harus menampung pula golongan non-Muslim di Indonesia,” kata Al Chaidar, seorang pengamat politik Islam.

Radikalisme Islam, sebagaimana dipahami publik, direpresentasikan FPI, Laskar Jihad, FKAWJ, Majelis Mujahidin, dan terakhir Komando Laskar Islam (KLI). Mereka selalu berada di garda terdepan bila terjadi aksi menyangkut Islam.

Di sepanjang Ramadan beberapa tahun lalu, misalnya, FPI bergerak untuk menutup tempat-tempat yang mereka anggap sebagai sarang maksiat. Tidak saja melakukan demonstrasi besar-besaran di depan tempat-tempat itu, FPI juga dalam beberapa kesempatan cara-cara yang boleh dikatakan keras, seperti menghancurkan tempat-tempat hiburan itu untuk menunjukkan sikap penolakan mereka.

Kini FPI tersungkur dan para pengurusnya ditahan akibat insiden Monas. PKS yang dikenal mampu menampung mereka, harus menyantuni pula kaum muslim radikal itu agar bisa diajak kembali ke jalan moderat.

Selain PKS, tentu saja Golkar, PDI Perjuangan, PAN, PKB, PBR, Partai Demokrat dan PPP berpotensi mengajak kaum muslim radikal untuk bergabung dan membangun demokrasi di Indonesia.

“Islam adalah rahmatan lil alamin. Maka, kini saatnya kaum muslim berbenah diri dan bersikap santun dengan akal budi, untuk bangkit dari keterpurukan citra akibat insiden Monas. PBR pun siap menerima arus sosial muslim dan non-muslim dari manapun di negeri ini, termasuk dari jaringan FPI, HTI, MMI dan sebagainya.’’ kata Bursah Zarnubi, Presiden Partai Bintang Reformasi yang juta Ketua Fraksi PBR di DPR. [I4]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah