Kamis, 05 Juni 2008

PEMILU 2009 : PDIP-Golkar Bertempur, PKS Melejit

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009

Type rest of the post here


Kamis, 29/05/2008 16:03 WIB
Suhu Politik Mulai Memanas
PDIP - Golkar Bertempur, PKS Melesat

Jakarta- Meski Pemilu 2009 relatif masih jauh, PDIP dan Golkar mulai saling berhadapan. Suhu panas berawal dari perang komentar seputar harga baru BBM dan program BLT Plus. Di tengahnya, PKS mencelat.

Begitulah nuansa perpolitikan di Tanah Air saat ini. Pemerintahan di bawah kendali duet Susilo Bambang Yudhoyono-M Jusuf Kalla yang ditopang Partai Demokrat dan Golkar, kini bak jadi sasaran tembak pihak-pihak oposisi menyusul kenaikan harga BBM bersubsidi dan program BLT Plus.

Situasi memang berkembang menjadi sangat sensitif setelah pemerintah memberlakukan harga baru BBM bersubsidi dan menggulirkan kompensasinya berupa BLT Plus. Dua hal itu dijadikan 'titik rawan' pemerintah, utamanya figur SBY dan JK, dikaitkan dengan prospek politik 2009.

Pihak yang paling kencang membombardir kepijakan pemerintah adalah PDIP. Ketua Umum Megawati Soekarnoputri menentang keras kenaikan harga BBM. Bahkan, program BLT Plus pun ditudingnya sebagai pelecehan kepada bangsa sendiri dengan menyebut bangsa pengemis.

JK kontan bereaksi. Ia pun menyatakan tersinggung dengan kritik Mega. Sebab, menurutnya, membantu kaum miskin di Indonesia adalah kewajiban dan tanggung jawab pemerintah sesuai UUD 1945. Untuk memompa lebih keras daya ledak pernyataan politik Mega, putri ketiga mendiang Bung Karno itu mulai memaparkan sederet nama yang akan dijadikan calon wakil presiden pilihannya.

Sejumlah nama yang konon mulai masuk daftar seleksi Mega adalah Sutiyoso, Wiranto, Ryamizard Ryacudu, Din Sjamsuddin, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Hidayat Nurwahid, Suryadharma Ali, dan beberapa nama lain.

Direktur Institute for Policy Studies Fadli Zon mengatakan, peluang menang dalam pilpres 2009 untuk mantan-mantan presiden seperti Gus Dur dan Mega boleh jadi berkurang karena publik sudah merasakan gaya kepemimpinan mereka. "Publik cenderung memilih calon alternatif," kata Fadli, master lulusan London School of Economic and Political Science.

Meski survei LSI, LSN, LP3ES, dan Reform Institute menyatakan bahwa prospek parpol Islam dalam Pilpres 2009 menyurut, survei-survei itu bukanlah harga mati. Beberapa analis politik malah melihat kecenderungan menguatnya 'kuda hitam' PKS sebagai rival berat PDI-P dan Golkar dalam Pemilu 2009.

"PKS tidak boleh dipandang remeh, apalagi jika parpol-parpol nasionalis (berpaham kebangsaan) terlibat 'perang' seperti tergambar pada kasus PDI-P dan Golkar," kata pengamat politik Fachry Ali.

Perihal PKS yang bisa mencelat dan memetik keuntungan dari persaingan sengit PDI-P dan Golkar, para pengamat justru mengingatkan bahwa PKS juga tak punya calon presiden yang kapabel dan kredibel.

Kalau toh PKS mengajukan calon dari militer, misalnya, itupun sudah diragukan kapasitas dan kredibilitasnya. "PKS bisa saja memilih calon dari mantan militer, tapi kan para jenderal itu tidak laku lagi dijual," kata Dr Indria Samego, pengamat politik LIPI.

Tampaknya, zaman sudah berubah. Kepemimpinan SBY yang mantan perwira militer, terbukti tidak memberikan harapan bagi rakyat sehingga mencuat isu 'peragawan politik' sebagai sindiran di panggung kepemimpinan nasional. Indonesia sudah pernah dipimpin inteligensia seperti Soekarno-Hatta, Soeharto, ilmuwan BJ Habibie, ulama Gus Dur, dan perempuan (Mega), kemudian kembali dipimpin militer (SBY).

Mungkin saja pada Pilpres 2009, pengusaha (saudagar) seperti JK atau seorang raja Sri Sultan HB X muncul sebagai pemimpin NKRI. (Inilah.com/bj2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hubungi Kami:

Kantor : Gedung twink Lt 3, Jl Kapten Tendean no. 82, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Telp: 021-73888872/021-70692409

Email : cheriatna@gmail.com




Entri Populer

Info Haji

Biro Travel Haji Plus dan Umroh Prima Saidah