Menuai kritik di sana-sini, film berjudul '300' justru menuai puja-puji di Barat. Film ini disebut-sebut sebagai revolusi kedua teknologi perfilman Hollywood setelah Jurrassic Park (1993).
Dalam '300' hiperrealitas hadir secara paripurna ke dalam format yang masuk akal, bahkan 'sedap' ditonton. Tak pelak, '300' menandai perkembangan termutakhir computer generated imagery (CGI) sejak teknologi ini diperkenalkan kali pertama lewat Westworld (1976). Majalah Time mendapuk '300' sebagai potret masa depan perfilman Hollywood.
Distorsi atau ketidakakuratan sejarah dalam '300' agaknya tak menjadi isu penting. Situs kritik terkemuka rottentomatoes.com tak menyorot tajam soal ini, bahkan cenderung mengerdilkannya. ''Banyak yang mengeluhkan ketidakakuratan sejarah. Tapi, bukankah Anda ke bioskop untuk memperoleh hiburan, bukan kuliah sejarah?'' tulis seorang pengkritik seperti dikutip situs Rollingstone.
Bukti bahwa publik Barat tengah mabuk '300' ditandai dengan membludaknya penonton di bioskop-bioskop AS. Memasuki pekan kedua, '300' telah meraup pendapatan 130 juta dolar AS (sekitar Rp 125 miliar) dan kini memuncaki top box office AS.
Hanya, di balik gemerlap efek digital dan keriuhan penonton, film tersebut dianggap mengandung penipuan sejarah. Film ini mengisahkan kegagahan 300 serdadu Sparta saat menghalau sejumlah besar pasukan Persia pada pertempuran Thermophylae di perbukitan Yunani pada 480 sebelum masehi (SM). Kisah ini sangat mengunggulkan Yunani dan merendahkan bangsa Persia.
Tak cuma itu, masyarakat Persia dalam film ini digambarkan sebagai masyarakat yang barbar dan tidak mengenal peradaban dan ingin menghancurkan Yunani. Padahal, pada zaman itu, masyarakat Persia sudah mengenal peradaban zoroaster yang juga mengajarkan kasih sayang. Warga Iran pun sangat tersinggung dengan gambaran film tersebut. Penduduk Iran yang berada di luar negeri, banyak mengungkapkan kegundahan hatinya atas film tersebut lewat blog. Para blogger Iran ini menganggap film tersebut sangat tidak sesuai dengan kenyataan sejarah, dan menghina rakyat Iran.
Seorang blogger Iran, Omid Memarian, yang juga seorang wartawan, adalah salah satu penentang keras alur cerita film itu. Seperti ditulis situs BBC, Omid merasa sangat khawatir akan munculnya pemahaman yang keliru tentang Persia akibat pemutaran '300'. ''Bukan cuma memberi gambaran yang salah tentang pertempuran, penggambaran bangsa Persia dan peradaban mereka dalam film itu sangat melenceng,'' ujar Omid.
Dia pun menganggap bahwa '300' lahir dari peradaban yang tidak begitu kuat memahami sejarah. ''Sangat disayangkan bahwa sejarah sedikit sekali diajarkan di sekolah-sekolah AS dan sangat mudah memengaruhi orang awam yang tidak mengetahui fakta sejarah,'' tutur dia. Singkatnya, dia menganggap film tersebut tidak disandarkan pada pandangan yang seimbang.
Sebagian warga Iran memandang film ini merupakan bagian dari perang 'urat syaraf' yang dilancarkan AS terhadap Iran. Selama ini, kedua negara tersebut berada pada dua kutub yang saling berlawanan. Lewat isu nuklir, AS ingin mencoba menekan Iran supaya takluk pada keinginan politik dunia Barat.
Sebaliknya, lewat isu holocaust, Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad, banyak melawan serangan Barat. Ketidakadilan Barat, dia telanjangi lewat persoalan holocaust. Tak hanya itu, Ahmadinejad juga giat menjalin hubungan dengan negara-negara pesaing kekuatan AS, sebagai bagian dari perlawanannya terhadap hegemoni Barat.
Terhadap film tersebut, Ahmadinejad ikut bereaksi keras. Melalui penasihat seni kepresidenan, Javad Shamqadri, Ahmadinejad memprotes keras pembelokan sejarah dalam film tersebut. Shamqadri mengungkapkan pihaknya meyakini AS telah mempelajari cara menyerang Iran lewat studio film Hollywood. Menurut dia, kebudayaan AS akan puas jika berhasil merampas sejarah masa silam Iran.
Keinginan Iran melawan 'penipuan' sejarah yang tertuang dalam film '300' sangatlah serius. Selain lewat blog dan pernyataan resmi penasihat Presiden Ahmadinejad, perwakilan Iran di UNESCO juga melayangkan surat protes kepada dirjen organisasi tersebut. Mereka meminta UNESCO bereaksi tegas dan mengecam aksi pelecehan para pembuat film yang menggambarkan bangsa Persia sebagai bangsa yang brutal dan menyenangi kekerasan.
Perlawanan terhadap alur cerita film ini juga diwujudkan masyarakat Iran dengan menggelar petisi di internet. Petisi tersebut, antara lain, bisa diikuti lewat situs www.petitionline/movie300/petiti.html. Hingga Selasa (20/3) sekitar pukul 21.20 WIB, petisi tersebut sudah ditandatangani 1.373 orang. Semua usaha yang ditempuh Iran untuk memprotes film '300' inipun hanya ditanggapi dengan ringan oleh produser film tersebut, Warner Brothers.
Dengan bersembunyi di balik pernyataan bahwa film ini merupakan karya fiksi, pihak produser merasa tidak ada yang salah dengan film produksinya. Mereka tidak mengakui bahwa di balik filmnya terselip 'keinginan' untuk menyerang peradaban lain. imy/irf/times/scifi-weekly
Republika
PKS Story
![]() |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar