Semua ini tidak menghalangi kerja politik Hamas dalam pemerintahan dengan bekal legalitas Arab, dunia Islam dan sebagian dunia internasional. Dan … Hamas berhasil membentuk pemerintahan persatuan nasional Palestina yang pertama dalam sejarah Palestina. Sebuah capaian politik yang besar.
Perang baru antara Hamas dan Israel saat ini adalah mereka berlomba-lomba secara mati-matian memperoleh legalitas internasional. Hamas sebagai gerakan pembebasan Islam pertama berusaha merebut legalitas dunia internasional. Sementara Israel berusaha mati-matian agar dunia internasional semakin memperketat isolasi terhadap Palestina.
Konflik baru antara Hamas dan Israel disebabkan oleh sejumlah hal:
Pertama, dari sisi orientasi pemikiran Israel:
- Perolehan Gerakan Perlawanan Pembebasan Islam kini memperoleh legalitas internasional akan memberikan contoh kepada banyak gerakan pembebasan Islam lainnya yang ada di dunia. Gejala ini tentu mengancam eksistensi gerakan-gerakan moderat yang banyak setuju dengan detail kerja politik, keamanan dan orientasi Israel.
- Perolehan program politik perlawanan untuk mengisi kekuasaan sudah pasti mengagalkan system keamanan Israel di kawasan dan terancam digerogoti karena Israel akan bekerja sama dengan program gerakan perlawanan yang memiliki legalitas internasional. Jadi bukan terorisme yang mengancam keamanan dan ketentraman Israel.
Kedua, dari sisi orientasi pemikiran Hamas:
- Sudah pasti akan bertindak kontradiksi dengan persepsi Israel dalam menjalin hubungan satu sama lain. Hamas menyadari betul bahwa legalitas internasional yang ia peroleh bisa jadi akan memojokkan posisi Israel. Dimana Israel berusaha untuk menampakkan diri di depan dunia – melalui menuver politiknya – didukung Amerika seakan mengindikasikan kepada masyarakat internasional sebagai negara rindu perdamaian dan pernghalang utamanya adalah karena Hamas diterima oleh dunia internasional padahal tidak memenuhi syarat Tim Kwartet.
- Keberadaan Hamas di pemerintahan untuk pertama kalinya dalam sejarah merupakan jaringan pengaman dengan – minimal – dunia Arab, negara Islam dan sebagian negara dunia. Ini tentu meringankan perasaan Hamas yang seakan jauh dari konvensi Arab negara Islam dan justru akan mengokohkan hubungan dengan mereka. Keberadaan Hamas di puncak piramida kekuasaan Palestina juga membuat Israel berfikir seribu kali sebelum melakukan pembantaian (fisik) terhadap pimpinan Hamas. Karena mereka sudah menjadi pemimpin nasional dan bukan pimpinan faksi perlawanan. (atb)
*Peneliti dan Jurnalis Palestina Prof. Hasan Al-Qathrawi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar